Ikhsan dan Aspek-aspeknya yang perlu anda fahami dengan baik.

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hambah Allah SWT. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah SWT. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.
Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril—yang menyamar sebagai seorang manusia—mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya :

فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ )). رواه مسلم

“Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah SWT memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….”(an-Nahl: 90)

Pengertian Ihsan

Ihsan berasal dari kata حَسُنَ yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah اِحْسَانْ, yang artinya kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.

Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)

“…Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (al-Qashash:77)

Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah SWT.

Landasan Syar’i Ihsan.

Pertama, Al-Qur`an

Dalam Al-Qur`an, terdapat seratus enam puluh enam ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.

“…Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah:195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (an-Nahl: 90)

“…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (al-Baqarah: 83)

“…Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan para hamba sahayamu….” (an-Nisaa`: 36)

Kedua; As-Sunnah.

Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan—ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .

“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda:

اِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اْلِاحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ , فَاِذَا قَتَلْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الْقَتْلَةَ وَ اِذَا ذَبَحْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الذَّبْحَةَ

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik…” (HR. Muslim)

Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal ini lah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.

A. Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

Tingkatan Ibadah dan Derajatnya.

Berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat, ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati jannatul firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak, para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan jauhnya jarak antara mereka.
Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.
1.Tingkat at-Takwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajat yang berbeda-beda.
2. Tingkat al-Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat yang berbeda-beda.
3.Tingkat al-Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan derajat yang berbeda-beda pula.

Pertama,Tingkat Takwa.


Tingkat taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk katagori al-Muttaqun, sesuai dengan derajat ketaqwaan masing-masing.
Takwa akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah dapat mengakibatkan sangsi dan melakukan salah satu larangannya adalah dosa. Dengan demikian, puncak takwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkansemualarangan-Nya.

Namun, ada satu hal yang harus kita fahami dengan baik, yaitu bahwa Allah SWT Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu, Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah SWT akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak takwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik pada peringkat puncak takwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir atau ihsan.
Peringkat ini disebut martabat takwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima oleh Allah SWT.

Kedua,Tingkatal-Bir.


Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Abrar. Hal ini sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT. hal ini dilakukan setelah mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang ada pada peringkat sebelumnya, yaitu peringkat takwa.

Peringkat ini disebut martabat al-Bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala didalamnya.
Akan tetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam kelompok al-bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu peringkat takwa. Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk naik pada peringkat selanjutnya.
Dengan demikian, barangsiapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang dia tidak mengimani unsur-unsur qaidah iman dalam Islam, serta tidak terhidar dari siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al-bir). Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya.

“…Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah takwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (al-Baqarah: 189)

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (Ali ‘Imran: 193)

Ketiga, Tingkatan Ihsan
Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Mereka adalah orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat takwa dan al-bir).
Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna—seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya.
Untuk dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah.

B. Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah SWT pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:

Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua.
Allah SWT menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya.

“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil.” (al-Israa’: 23-24)

Ayat di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah.
Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. Bersabda :

رِضَى اللهُ فِى رِضَى اْلوَالِدَيْنِ وَ سُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ اْلوَاِلدَيْنِ

“Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”

Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman. Dan Akhlak kepada sesama manusia yang paling utama kepada kedua orang tua, berakhlak kepada mereka adalah dengan berbakti kepada keduanya, baik ketika hidup aupun setelah wafatnya, sebagimana hadits Nabi :


عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا(رواه ابو داود)

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy berkata : “Tatkala kami sedngan bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah seraya bertanya : “Ya Rasulallah apakah masih ada kesempatan untuk saya berbakti kepada Ibu Bapak saya setekah keduanya wafat?” Nabi menjawab : “Ya, dengan mendoakan keduanya, memohon ampun unyuknya, melaksanakan janjinya dan menyambung silaturrahmi dari sanak saudarnya serta memuliakan teman-temannya

Kedua, Ihsan kepada kerabat karib.
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah SWT menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi. Allah berfirman :

”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan.?” (Muhammad: 22)
Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:

أَنَا اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

“Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Turmuzdi)

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud)

Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin.
Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”

Diriwayatkan oleh Turmuzdi, Nabi saw. Bersabda :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَبَضَ يَتِيمًا مِنْ بَيْنِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ إِلَّا أَنْ يَعْمَلَ ذَنْبًا لَا يُغْفَرُ لَهُ

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa—dari Kaum Muslimin—yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”

Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.
Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.
Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يَسْلَمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : Demi Yang jiwaku berada di tangan-NYA tidaklah selamat seorang hamba sampai hati dan lisannya selamat (tidak berbuat dosa) dan tidaklah beriman (sempurna keimanannya) seorang hamba sehingga tetangganya merasa aman dari gangguannya. (HR.Ahmad)

Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ بِي مَنْ باَتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَا ئِعٌ وَهُوَ يَعْرِفُهُ

“Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. ath-Thabrani)

Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya.

Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini :

َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)

Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَصَمَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَقَالَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً


Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)

إِذَا صَنَعَ لِأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامَهُ ثُمَّ جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ فَلْيَأْكُلْ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوهًا قَلِيلًا فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ مِنْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ


Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang diantara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilahkannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu mememberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)
Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pridainya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.
Pada akhir pembahasan mnegenai bab muamalah ini, Allah SWT menutupnya firman-Nya yang berbunyi :

”Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (al-Hajj: 38)

Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda :

قَوْلُ اْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ

“Ucapan yang baik adalah sedekah.”

Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.
Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.
Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
· Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah

Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya, kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akan tetapi, Rasulullah malah berkata :

اَلَّلهُمَّ اهْدِ قَوْ مِيْ فَاِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.”

Contoh kedua, suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya pun mengipasinya sampai ia tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar bangun, beliau mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahaya itu terbangun, maka ia pun berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu, sebagaimana engkau melakukannya padaku”.

C. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang—yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits :

اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَ خْلَاقِ

“Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”


Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, dimata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah SWT mengambil ruh ini dari kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.











Menjadi Karyawan Tuhan.

Saklar Jiwa -- KETIKA masih kecil kita sering ditanya guru, kelak nanti kalau sudah besar kamu mau jadi apa? Kita pun menjawab spontan, ada yang ingin menjadi guru, tentara, dokter, insiyur, pilot dan lain sebagainya. Pendeknya kita mempunyai imajinasi untuk menjadi orang sukses, memiliki pekerjaan dengan gaji besar, berpakaian mentereng dan rumah megah.

Imjinasi dan cita-cita tentang masa depan itu memang selalu tumbuh bersama kita bahkan sampai hari ini. Dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup, imajinasi sewaktu kecil tentu saja banyak yang berubah.

Setelah memasuki duna kerja, ternyata bekerja tidak cukup hanya mengandalkan skill tanpa disertai hati dan semangat pengabdian. Bekerja tanpa hati akan terasa hambar dan membosankan. Idealnya dalam bekerja, seseorang melakukan aktualisasi diri sehingga ketika melihat hasil kerjanya seakan melihat potret dan karakter dirinya.

Hidup, berkarya dan bermain lalu menyatu, menjadi satu paket, three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif dan konstruktif? Dengan semakin majunya teknologi moderen maka sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman, menyenangkan dan produktif.

Lebih dari sekadar tempat bekerja, suasana kantor mestinya juga diubah  agar merupakan suatu komunitas yang mendatangkan rasa hangat, penuh aura kekerabatan dan pertemanan yang mendukung kompetisi untuk berprestasi dengan tetap memegang komitmen etika professionalisme.

Orang yang bekerja namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut alienated person, yaitu pribadi yang teserabut dan tersingkir dari apa yang ia lakukan. Lebih parah lagi kalau  seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya, maka akan mengalami kepribadian yang pecah. Dan lebih jauh lagi bisa disebut sakit mental.

Bayangkan, betapa tersiksanya seseorang yang hidup menganggur, sementara ketika bekerja membenci pekerjaannya. Inilah yang dimaksud teralienasi di mana seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Tidak nyaman dengan keadaannya.

Dengan bekerja maka manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi, dan manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya, memakmurkan bumi dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya?

Demikianlah, Al-Quran selalu mengkaitkan anjuran beriman dengan dengan perintah amal saleh.  Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik, untuk tujuan kebenaran dan kebaikan.

Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan. Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tetapi belum tentu indah. Tanpa keindahan kehidupan akan terasa kering.

Tanpa kerja produktif seseorang juga akan kehilangan harga dirinya. Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orangtua tanpa yang bersangkutan memiliki keterampilan kerja.

Sering kita jumpai pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena semua itu hasil kerja orangtuanya. Dia tidak memiliki keterampilan dan kepandaian yang dibanggakan.

Di hatinya, merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara professional  dan hasil karyanya mendapat penghargaan dari  masyarakat. Jadi, kerja, harga diri dan kebahagiaan saling terkait dan saling mengisi.

Menjadi persoalan ketika bekerja secara  terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami banyak penduduk Indonesia. Langkah pertama adalah mengembangkan keterampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun yang baru.

Kedua, jika kondisi eksternal  tidak bisa dirubah, maka seseorang harus merubah kondisi internalnya. Yaitu belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.

Namun di atas itu semua, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan juga hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, maka bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas.

Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi berlebih pada orang lain, kecuali ada kalkulasi untung rugi. Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasaya syukur pada Sang pemberi hidup.

Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh, bermasyarakat dan mensyukuri hidup. Aku mengada karena aku berkarya. Dan aku bangga menjadi karyawan Tuhan.

Sumber : Tribun











Bahagia itu Mudah, Baca kiat Memperoleh kebahagiaan dalam Perkawinan.

Sahabat saklar jiwa yang ananda banggakan, Kebahagiaan adalah suatu ekspresi jiwa, dan jiwa yang bahagia adalah jiwa yang tenang, tentram serta jiwa yang mampu merasakan kenikmatan hidup yang hakiki. Dan orang yang bahagia adalah orang yang dapat menikmati terpenuhnya kebutuhan jasmani dan rohani secara seimbang.

Adapun kiat-kiat memperoleh kebahagiaan sebagai berikut :

Motivasi dalam melaksanakan perkawinan, yaitu motivasi dalam memilih calon suami atau istri. Faktor yang menyebabkan orang gagal dalam membentuk keluarga bahagia adalah kekeliruan bermotivasi.

Dalam prakteknya seseorang condong melihat aspek-aspek lahiriah seperti catik, tampan dan kekayaan karena memang pada dasarnya Islam pun mengatur hal yang demikian  yakni kawinilah seseorang itu karena empat perkara. Tetapi perlu dipahami bahwa aspek materi itu bersifat sementara dan tidak menjamin adanya kebahagiaan tanpa dibarengi dengan kepribadian yang baik dari masing-masing calon.

Ketaatan menjalankan agama juga mempunyai pengaruh erat terhadap kebahagiaan karena kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh jiwa, sedangkan ketentraman dan ketenangan jiwa bersumber pada ajaran-ajaran agama yang bersifat sepiritual. 

Disini suami atau istri dituntut untuk saling mengingatkan jika ada tindakan dari salah satu pihak yang menyimpang terhadap ajaran agama.

Ketaatan menjalankan agama bukan berarti kita mengutamakan kepentingan ukhrowi dan mengesampingkan kepentingan duniawi, akan tetapi dua hal ini harus berjalan sejajar karena pada dasarnya dua hal ini saling memenuhi satu sama lain.

Selanjutnya memahami hak dan kewajiban antara suami dan istri. Seorang suami ditakdirkan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya yang melindungi keluarga termasuk pengambilan keputusan secara bijak dan sebagainya. Seorang istri menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga yang baik dengan menjalankan 4 M (macak, mapan, manak, masak) dan lain sebagainya.

Dalam hal ini dan berdasarkan perkembangan zaman, tidak sedikit seorang istri yang berperan menggatikan kewajiban suaminya yaitu antara lain mencari nafkah melalui karirnya dan ada pula yang dua-duanya berkarir. Dalam hal ini, perlu adanya komunikasi yang baik antara pasangan, saling pengertian satu sama lain dan saling mengingatkan satu sama lain agar tercipta keluarga bahagia.


Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan daripadanya Allah ciptakan istri dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.










Etika Tidur Dalam Tatanan Islam. Dibaca mumpung masih anget.

Tidur Sebagai Satu Diantara Tanda Kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُم بِالَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah tidurmu diwaktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan". [Ar Rum: 23]
Syaikh Abdur Rahman Bin Nashir As Sa'di berkata ketika menafsirkan ayat di atas, "Tidur merupakan satu bentuk dari rahmat Allah sebagaimana yang Ia firmankan.
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan supaya kamu bersyukur". [Al Qashahs: 73].
Maka berdasarkan konsekwensi dari kesempurnaan hikmahNya, Ia menjadikan seluruh aktivitas makhluk berhenti pada suatu waktu (yakni pada malam hari) agar mereka beristirahat pada waktu tersebut, dan kemudian mereka berpencar pada waktu yang lain (yakni pada siang hari) untuk berusaha mendapatkan kemashlatan dunia dan akhirat. Hal yang demikian itu tidak akan sempurna berlangsung kecuali dengan adanya pergantian siang dan malam. Dan Dzat Yang Maha Kuasa mengatur semua itu tanpa bantuan siapapun, Dialah yang berhak disembah" [1]
Jadi tidak hanya sebagai rutintas semata, tidur juga merupakan satu wujud dari rahmatNya nan luas dan kemahakuasanNya yang sempurna. Padanya tersimpan hikmah dan kemashlahatan bagi para makhluk. Tidur juga merupakan satu simbol akan kekuasaanNya untuk membangkitkan makhluk setelah Ia mematikan mereka.
Setidaknya tidur memiliki dua manfaat penting , sebagaimana yang dituturkan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Maad.
Pertama : Untuk menenangkan dan mengistirahatkan tubuh setelah beraktivitas. Sebagaimana firman Allah.
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat". [An Naba : 9]
Kedua : Untuk menyempurnakan proses pencernaan makanan yang telah masuk ke dalam tubuh. Karena pada waktu tidur, panas alami badan meresap ke dalam tubuh sehingga membantu mempercepat proses pencernaaan.


TELADAN RASULULLAH DALAM MASALAH TIDUR
Pola tidur seseorang memiliki kontribusi cukup penting bagi aktivitasnya secara keseluruhan.

Kebiasaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang waktu tidur adalah teladan terbaik. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah tidur melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak juga menahan diri untuk beristirahat sesuai kebutuhan. Inilah prinsip pertengahan yang Beliau ajarkan. Selaras dengan fitrah manusia. Jauh dari sikap ifrath (berlebih-lebihan) ataupun tafrith (mengurangi atau meremehkan).
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada pertengahan malam. Pada sebagian riwayat dijelaskan, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur berbaring di atas rusuk kanan Beliau. Terkadang Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur terlentang dengan meletakkan salah satu kakinya di atas yang lain. Sesekali Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam letakkkan telapak tangannya di bawah pipi kanan Beliau. Kemudian Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa. Satu catatan penting juga, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah tidur dalam kondisi perut penuh berisi makanan.
Diantara doa yang Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca sebelum tidur adalah sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut.
عَنِ البَرَّاء بنِ عَازِب، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللهُمَّ إِنِّي اَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَ فَوَضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَ أَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا منك إَلاّ إِلَيْكََ ، أَمَنْتُ بِكِتَابٍكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ وَ اجْعَلْهُنَّ آخِرَ كَلاَمِكَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ على الفِطْرَة))
"Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah bersabda,"Jika engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu ucapkanlah doa:" Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus" dan hendaklah engkau jadikan doa tadi sebagai penutup dari pembicaranmu malam itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu niscaya engkau meninggal di atas fitrah" [2]
Berkenaan dengan hadits di atas, Syaikh Salim Al-Hilali berkomentar," Lafazh-lafazh doa merupakan hal yang bersifat tauqifiyah (tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil), lafazh tersebut memiliki kekhususan tersendiri dan rahasia-rahasia yang tidak dapat dimasuki oleh qiyas. Maka wajib menjaga lafazh tersebut seperti apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu ketika Al Barra tersalah mengucapkan," وَ برَسُولِكَ الذي أَرْسَلْتَ" Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengoreksinya dengan berkata,"Bukan begitu [3], وَ بِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْت َ"
Posisi berbaring seperti yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah posisi tidur terbaik yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena pada posisi miring ke kanan, makanan berada dalam lambung dengan stabil sehingga proses pencernaan berlangsung lebih efektif.
Adapun tentang posisi tidur yang terlarang, hadits berikut akan menjelaskan kepada kita.
عَنْ يَعِيْشَ بن طِخْفَةَ الغِفَاري رَضِي الله عنه قال : قال أَبي بَيْنَمَا أَناَ مُضْطَجِعٌ في المَسْجِد ِعَلى بَطْنِي إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلِهِ فَقَال (( إَّنَّ هَذِهَ ضِجْعَةٌ يُبْغِضَها اللهُ)) قال فَنَظَرْتُ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ
"Dari Ya'isy bin Thihfah ia berkata,"Ayahku berkata," Ketika aku berbaring (menelungkup) di atas perutku di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang menggoyangkan tubuhku dengan kakinya lantas ia berkata," Sesungguhnya cara tidur seperti ini dibenci Allah" Ia berkata,"Akupun melihatnya ternyata orang itu adalah Rasululullah" [4]
Syaikh Salim Al-Hilali menandaskan dalam Bahjatun Nazhirin, tidur menelungkup di atas perut adalah haram hukumnya. Ia juga merupakan cara tidur ahli neraka.
Dan dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga melarang kita tidur dengan posisi sebagian tubuh terkena matahari dan sebagiannya lagi tidak.
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
إِذَ كَان أَحَدُكُمْ في الشَمْسِ فَقَلَصَ عَنْهُ الظِلُّ، فَصَارَ بَعْضُهُ في الشَمْسِ و بَعْضُهُ في الظِلُّ فَلْيَقُمْ
"Jika salah seorang diantara kalian berada di bawah matahari, kemudian bayangan beringsut darinya sehingga sebagian tubuhnya berada di bawah matahari dan sebagiannya lagi terlindung bayangan, maka hendaklah dia berdiri (maksudnya tidak tetap berada di tempat tersebut)" [5]
Tentang tidur siang, sebagian ulama ada yang membaginya ke dalam tiga kategori:
Pertama : Tidur siang pada tengah hari saat matahari bersinar terik. Tidur ini biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua : Tidur pada waktu dhuha. Tidur ini sebaiknya ditinggalkan, karena membuat kita malas serta lalai untuk berusaha meraih kemashlatan dunia dan akhirat
Ketiga : Tidur pada waktu ashar. Ini merupakan waktu tidur yang paling jelek.
Sebagian salaf juga membenci tidur waktu pagi. Ibnu Abbas pernah mendapati putranya tidur pada pagi hari, lantas ia berkata kepadanya,"Bangunlah, apakah engkau tidur pada saat rizki dibagikan?"
Oleh karena itu sebaiknya tidur pagi ini ditinggalkan kecuali karena ada satu alasan yang menuntut. Karena tidur pagi ini memberikan efek negatif bagi tubuh berupa tertimbunnya sisa-sisa makanan di dalam perut yang seharusnya terurai dengan berolahraga juga menimbulkan berbagai penyakit.
Di atas telah disinggung bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur pada awal malam dan bangun pada pertengahan malam. Beliau bangun ketika mendengar kokok ayam jantan dengan memuji Allah dan berdoa.
الحَمْدُ اللهِ الَذِي أَحْيَاناَ بَعْدَ ما أَمَاتَناَ وَ إِلَيْهِ النُشُور
"Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepadanya seluruh makhluk kan dibangkitkan" [6]
Lalu Beliau bersiwak kemudian berwudhu dan shalat. Satu pengaturan yang memberikan hak bagi fisik serta jiwa manusia sekaligus. Karena istirahat yang cukup akan memulihkan kekuatan tubuh dan menopang kita agar dapat beraktivitas dan beribadah dengan baik. Adapun shalat, merupakan aktivitas ritual yang akan memberikan ketenangan bagi jiwa.
Dalam satu hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ تَعَارَّ مَنَ اللَيْلِ فقَال حِيْنَ يَسْتَيْقِظُ: لا إله اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ له، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ،بِيَدِهِ الخَيْرُ و هو على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، سُبْحَان الله وَ الحَمْدُ للهِ ولا إله إلا اللهُ و اللهُ أَكْبَرُ و لا حَوْلَ و لا قُوَّةَ إلاَّ بالله، ثُمَّ قَال: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْدَعا اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ قَامَ فَتَوَضَأُ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ
"Barangsiapa bangun pada malam hari, kemudian ia berdoa," Tiada illah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu baginya, milikNyalah segala kerajaan dan pujian, Yang Maha menghidupkan dan mematikan, di tanganNyalah segenap kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagiNya dan tiada illah yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada daya serta upaya melainkan dengan pertolongan Allah" kemudian setelah itu berdoa," Ya Allah ampunilah aku" ataupun doa yang selain itu niscaya dikabulkan doanya. Kemudian apabila ia bangkit berwudhu lalu shalat maka akan diterima shalatnya,"[7]

Sekiranya kita mengkaji lembar-lembar sunnah niscaya kita kan mendapatkan petunjuk Rasulullah yang sempurna bagi umatnya. Tidak akan ada yang mengingkarinya kecuali orang yang memiliki sifat nifaq dan hasad dalam hatinya. Beliau telah memberikan teladan bagaimana kita meraih keridhaan ilahi dalam setiap detik dari hidup kita, kendati dalam masalah tidur. 
Maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
.
Wallahu a'lamu bishshawab
Amatullah


Maraji:
1. Alquranul Azhiem berikut terjemahannya
2. Zaadul Ma'ad
3. Riyadush shalihin
4. Bahjatun nazhirin

BAGIKAN KEPADA KERABATMU KHASANAH INI.
_______
Footnote
[1]. Taisir Karimir Rahman 2/402 dengan rigkas
[2]. H.R Al Bukhari 11/93,95 dan Muslim (2710)
[3]. Bahjatun nazhirin hal 106
[4]. H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad
[5]. H.R Abu Dawud (4821), Ahmad 2/383
[6]. H.R Al Bukhari
[7]. H.R Al Bukhari dan selain beliau












Nasehat Jibril kepada nabi Muhammad

Malaikat Jibril alaihissalam datang kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam lalu berbicara kepada beliau dalam konteks beliau sebagai salah seorang hamba dari hamba-hamba ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan demikian apapun yang disampaikan Jibril alaihissalam juga berlaku untuk semua hamba ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saja dinasehati dan diingatkan, maka bagaimana dengan manusia selain beliau?! Tentunya mereka lebih membutuhkan nasehat dan peringatan, mereka tidak bisa lepas dari keduanya.

Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهٗ بِاللَّيْلِ ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

"Jibril mendatangiku lalu berkata, "Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya." Kemudian dia berkata, "Wahai Muhammad! Kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia." (H.R. Ath-Thabarani, Abu Nu'aim dan Al-Hakim) 

Nasehat Pertama 

"Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati!" 

Hal yang terburuk bagi manusia adalah kematian, karena dengan datangnya kematian maka manusia tidak akan pernah berbuat apa-apa lagi. Jangankan berbuat, berpikir saja manusia sudah tidak bisa lagi karena tubuh sudah ditinggalkan oleh rohnya. Kematian ini akan datang dan menghampiri setiap manusia dan tidak mungkin meleset. Dan sekalipun manusia melihatnya jauh, namun di sisi ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala adalah dekat. Setiap yang akan datang pasti datang, dan setiap yang akan datang adalah sesuatu yang dekat. ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, 

"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Q.S. Al-Anbiyā' 21 : 35) 

ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman, 

"Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (ALLAH), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu'ah 62 : 8) 

Dengan mengingat kematian, diharapkan setiap mu'min menghilangkan ketergantungan dan ketamakan hati terhadap dunia dan kesenangan-kesenangannya. Dengan mengingat kematian, sudah seharusnya manusia memendekkan angan-angan untuk dunia dan hanya mengharapkan kehidupan di negeri akhirat yang kekal. ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, 

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Q.S. Al-'Ankabut 29 : 64) 

Dengan demikian, hendaklah setiap hamba mempersiapkan diri untuk menyambut tujuan akhirnya yaitu kematian, dengan cara menyiapkan diri untuk sesuatu setelahnya (akhirat). 

Nasehat Kedua 

"Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya!" 

Setiap mu'min dibebaskan untuk mencintai siapa saja di antara semua makhluk, namun sesungguhnya mereka akan berpisah dengannya. Maka jangan sampai seorang mu'min menyibukkan hatinya dengan kesenangan-kesenangan dunia yang fana berupa istri, anak, harta dan selainnya dari hal-hal yang dicintai. ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan dari ALLAH serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al Hadid 57 : 20)

Karena itu – Wahai hamba ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala – bisa jadi semuanya akan pergi darimu, atau bisa jadi kamu yang pergi dari mereka! Maka sibukkanlah hati dengan kecintaan terhadap Dzat yang tidak akan pernah berpisah dan tidak akan pernah terpisah, yaitu dengan mengingat ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan melakukan amal shalih yang dicintai oleh-Nya. Karena hal itu kelak akan menemani di alam kubur dan tidak akan pernah berpisah selamanya. ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Q.S. Al-Kahfi 18 : 46)

Nasehat Ketiga

"Berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya!" "Berbuatlah sesukamu" berarti bahwa manusia bebas melakukan perbuatan yang baik maupun yang buruk sesukanya. Namun semuanya akan berakhir saat kematian datang, selanjutnya setelah kematian ternyata ada perhitungan dan pembalasan di akhirat. Setiap orang akan diberi putusan sesuai dengan konsekuensi dari perbuatannya. ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Berbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Fuṣṣilat 41 : 40)

ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Q.S. Az-Zalzalah 99 : 7-8)

Setiap balasan sesuai dengan amal yang telah dikerjakan, jika amalan yang dikerjakan tersebut baik maka balasannya akan menyenangkan dan jika buruk maka perjumpaan dengan balasan tersebut akan sangat menyedihkan.

Nasehat Keempat

"Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam)!"

Ketinggian dan kehormatan seorang mu'min adalah usahanya menghidupkan malam dengan mendawamkan shalat tahajjud di dalamnya, berdzikir dan membaca Al-Qur'an. ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

"Dan pada sebagian malam hari shalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (Q.S. Al-Isrā' 17 :79)

"Dan hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan sujud dan berdiri untuk Rabb mereka." (Q.S. Al-Furqān 25 : 63)

ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada ALLAH)." (Q.S. Adz-Dzāriyāt 51 : 15-18)

Dari Abdullah ibn Umar ibn 'Ash radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Shalat yang paling disukai ALLAH ialah shalat Nabi Daud, dan puasa yang paling disukai ALLAH ialah puasa Nabi Daud. Beliau tidur seperdua malam, berdiri (shalat) sepertiganya, dan tidur seperenamnya, beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari." (H.R. Bukhari)

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada Rabbmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh." (H.R. Ahmad)

Dari Abdullah ibn Muslin radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Kalimat yang pertama kali kudengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat itu adalah, "Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, tegakkanlah shalat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat."" (H.R. Ibn Majah)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnah di waktu malam." (H.R. Muslim) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu adalah qiyamul lail (shalat di tengah malam)." (Q.S. Muttafaqun 'alaih)

Nasehat Kelima

"Keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia!"

Kekuatan, keperkasaan dan keunggulan seorang mu'min dari orang lain adalah ketercukupannya dengan apa yang dikaruniakan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala kepadanya, dan ketidakbutuhannya terhadap apa yang ada di tangan manusia. Dan karena mulianya hamba ini di tengah-tengah manusia, maka ia menjadi orang yang dicintai di tengah-tengah mereka.

Abu Abbas Sahl ibn Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang apabila kulakukan aku akan dicintai ALLAH dan dicintai manusia." Rasululullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, pasti ALLAH mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu." (H.R. Ibn Majah)

Umur manusia itu sangatlah pendek ketika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang kekal. Jibril menyampaikan pesan singkat tentang melalui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal terbesar yang bermanfaat dan bisa menyelamatkan setiap hamba ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dari kengerian hari pembalasan yang pasti akan datang kemudian. Dan nasehat singkat ini pun telah mencakup kebaikan dunia dan akhirat, dan memberikan jaminan dengan kebahagiaan di dua negeri tersebut (dunia dan akhirat).

Wallahu a'lam bishshawab.
Semoga bermanfaat, Jangan lupa bagikan kebaikan ini untuk menjemput kebaikan-kebaikan yang sumbernya dari Allah.










Jurus aman Hindari Sifat Riya' (Pamer)

Pertanyaan.

Assalamualaikum, mas muluk. Tolong berikan saran atau nasehat kepada saya! Karena jika saya ingin bersedekah, saya sudah ada niat dalam hati ikhlas, tapi kemudian jika uang itu sudah saya sedekahkan, kenapa ada sifat yang seakan tidak ikhlas dalam hati? Saya juga tidak ingin riya' tapi kenapa sifat itu selalu muncul? Mohon penjelasannya syukron.
=================================================
Jawaban.
Semoga Allâh Azza wa Jallamembimbing anda kepada apa yang Dia cinta dan ridhoi.

Yang dimaksud dengan ikhlas adalah meniatkan semua amalan lahir maupun batin untuk mencari pahala dari Allâh Azza wa Jalladan tidak mengharapkan pujian manusia.[1] Pujian manusia memang membuai, dan jiwa kita menyukainya. Itulah kenapa riya` masih sering menggoda.

Keikhlasan niat tidaklah mudah diraih, bahkan orang-orang shalehpun kesulitan untuk mendapatkannya. Sufyân ats-Tsauri rahimahullah berkata, ''Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih sulit daripada mengobati niat saya; karena ia selalu berubah-ubah."[2]

Ucapan ini keluar dari lisan seorang Sufyân ats-Tsauri rahimahullah , yang merupakan tokoh teladan dari generasi tâbi'in. Bagaimana dengan kita? Hendaknya kita menjadikan ucapan beliau rahimahullah ini sebagai pecut untuk mawas diri dalam bab ini. Karenanya, wajib bagi setiap Mukmin untuk mempelajari hal ini.

Untuk meraih keikhlasan dalam beramal, diperlukan taufik dari Allâh Azza wa Jalladan usaha keras untuk meraihnya. Beberapa kiat berikut insyaAllâh bisa membantu kita meraihnya:

1. Memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar diberikan keikhlasan dalam beramal, dan dimasukkan dalam golongan mukhlishin (oang-orang ikhlas); karena keikhlasan adalah derajat tinggi yang merupakan anugerah Allâh Azza wa Jalla untuk orang-orang yang dipilih-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal ini adalah :


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ

Ya Allâh, Sungguh saya berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik dalam keadaan tahu, dan saya memohon ampunan dari apa yang tidak saya ketahui. [HR. al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad, dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah]

Riya`(beramal agar dilihat dan dipuji orang lain) adalah syirik yang kecil dan tersembunyi, sehingga kadang tanpa sadar kita jatuh ke dalamnya. Jika kita meminta kepada Allâh Azza wa Jalla dengan doa ini, Allâh Subhanahu wa Ta'ala akan lindungi kita dari berbuat riya` dalam keadaan sadar, dan akan diampuni-Nya jika tanpa sadar jatuh dalam riya`.

2. Mengatur dan menata hati untuk ikhlas sebelum beramal.
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, "Bagaimana cara niat dalam beramal?" Beliau menjawab, "Mengatur diri jika ingin beramal, untuk tidak mengharap pujian manusia."[3]

3. Berusaha menyembunyikan amal kebaikan kita dari pandangan manusia, sebagaimana kita menyembunyikan keburukan kita. Jika yang kita cari adalah ridha Allâh Azza wa Jalla, tidak perlu kita menunjukkannya kepada manusia, kecuali jika ada maslahatnya dan kita bisa menjaga keikhlasan hati.

4. Mengingat besarnya kerugian orang yang riya` dan tidak ikhlas dalam beramal, dan mengingat bahwa amalannya tidak bermanfaat jika tidak diiringi keikhlasan. Riya` menyebabkan amalan yang kita lakukan dengan susah payah menjadi sia-sia, membuat kita terhinakan di depan Allâh dan menjadikan kita sebagai penyulut api neraka yang pertama kali.

5. Mempelajari dan mencontoh teladan generasi awal umat Islam dalam bab ini. Ada banyak teladan keikhlasan dalam sirah mereka.

6. Saling mengingatkan tentang hal ini, terutama pada saat-saat kita atau saudara kita diuji dengan hal ini, atau saat kita melihat tanda-tanda riya` pada saudara kita.

Jika Saudara sudah bersedekah, bergembiralah karena dibalik itu ada pahala yang besar di sisi Allâh Azza wa Jalla. Berbahagialah! Karena anda sudah memasukkan kebahagiaan di hati orang yang membutuhkan. Tersenyumlah! Karena sedekah itu juga telah membuat mereka tersenyum. Jangan malah merasa berat dan menyesali sedekah.

Jika seorang Mukmin beramal dengan ikhlas, kemudian orang-orang memuji amalannya, bolehkah ia senang? Lalu apakah hal itu berpengaruh buruk pada amalannya? Ya, ia boleh senang dan itu tidak membahayakan amalannya, sebagaimana telah dijelaskan langsung oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits :

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

Dari Abu Dzar ia meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang berbuat kebaikan, lalu orang-orang memujinya. Nabi menjawab, "Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi Mukmin." [HR. Muslim]

Wallahu A'lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tafsir as-Sa'di, hlm. 931.
[2]. Jâmi' al-'Ulûm wal Hikam 1/70.
[3]. Jami' al-'Ulum wal Hikam 1/64.


CEO and FOUNDER Ensiklopedi Mas Muluk
Pengantar Mencapai Pencerahan jiwa
0857 681 888 39 / 0896 909 444 17











Wahai saudariku aku sampaikan sedikit bocoran tentang suamimu kelak di Syurga.

Saudariku muslimah, tahukah kamu siapa suamimu di surga kelak? (1)  Artikel di bawah ini akan menjawab pertanyaan anti. Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:

Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:

1.    Dia meninggal sebelum menikah.

2.    Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.

3.    Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.

4.    Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).

5.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.

6.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:
 
Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.
Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:
مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ
“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ
“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)
Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)

Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.

Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.

Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.

Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.

Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)
Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )
Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:
وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا
“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.

Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?

Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.

SEMOGA BERMANFAAT, JANGAN LUPA BAGIKAN KABAR BAIK INI KEPADA SAUDARIMU.
___________
(1) Karenanya sebelum berpikir masalah ini, pikirkan dulu bagaimana caranya masuk surga.
(2) Maksudnya, suaminya sama tapi sifatnya menjadi lebih baik dibandingkan ketika di dunia.










Sampaikanlah pada manusia bahwa Islam adalah agama yang Universal.


Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kapada para Rasul-Nya, sejak Nabi Adam a.s. hingga yang terakhir Nabi Muhammad s.a.w., untuk memberi pedoman hidup kepada umat manusia yang menjamin akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. adalah agma Allah yang terakhir, yang telah disempurnakan, yang merupakan ni'mat Allah terbesar kepada umat manusia dan yang merupakan agama yang diridhai-Nya menjadi anutan seluruh bumat manusia serta dinyatakan sebagai agama rahmat bagi semesta alam.

Setelah diturunkannya agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. itu, maka agama yang pernah di ajarkan oleh para Nabi sebelumnya yang ditujukan kepada kaumnya masing-masing telah diganti kedudukannya oleh agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. 

seluruh umat manusia wajib menganut agama Islam yang telah disempurnakan itu . dalam rangka tanggung jawab manusia kepada Allah; Allah memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk beriman atau kafir. Islam yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. 

sebagai agama yang telah disempurnakan itu wajib dida'wahkan kepada seluruh umat manusia di manapun dan kapanpun. Tetapi di dalam menda'wahkannya tidak boleh dengan cara paksaan, sebab beragama hanya akan bermakna jika di dasarkan atas kesadaran, bukan dengan paksaan dan bukan juga bersifat tradisional. 

Oleh karenanya adalah menjadi kewajiban juru da'wah, juru penerang agama, para pendidik dan para pengajar untuk menanamkan keyakinan Islam secara sadar sehingga hidup beragama dapat dirasakan sebagai suatu kenikmatan dan mengamalkan ajaran-ajarannya dirasakan sebagai kepuasan.

Islam agama yang universal, dari sekian banyak bukti tentang universalitas Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. yang paling relevan disajikan adalah ciri-ciri dan materi ajaran-ajarannya, dengan melalui perbandingan sebagaimana ditempuh oleh al-Qur'an.

dengan secara filosofis sebagaimana diisyaratkan dalam banyak ayat al-Qur'an yang menggugah pengguna akal fikiran untuk memahami ajaran Islam dan dengan cara empirik ilmiah (bagi para ahlinya) sejalan dengan banyak ayat-ayat al-Quran tentang al-kaun atau kosmos.











Hikmah Mahar dalam Kamus Rumah tangga berbasis Islam

Sahabat saklar jiwa sebelum kita masuk ke penjelasan tentang hikmah mahar, pembahasan kita ini mahar pernikahan lhoh ya bukan mahar yang lagi buming baru-baru ini (mahar yang digunakan untuk membeli kursi)., okeh next mari kita awali dengan do'a mendo'akan untuk yang berbagi dan yang membaca semoga diberi kelancaran dan kebahagiaan yang asalnya dari Allah aza wajalla pastinya.

Mahligai rumah tangga membutuhkan kesepahaman antara istri dengan suami yang tidak hanya sebatas mengandalkan cinta semata. Tak salah kalau banyak orang tua yang khawatir terhadap anaknya yang terlalu membabi buta dalam cinta. 

Persoalannya bukan karena cinta tidak di perlukan dalam perkawinan, tetapi masih masih diperlukan perangkat lain untuk meneguhkan tali rumah tangga. Sebab, fitrah cinta yang bersifat abstrak tidak selamanya menjadi solusi persoalan yang dihadapi, khususnya dalam materi.

Dalam perkawinan, istri mempunyai hak-hak dari suaminya yang bersifat materilmaupun moril. Diantara hak-hak materil adalah maskawin (shadaq). 

Shadaq atau Shidaq (mahar atau maskawin) menurut bahasa berarti ganti ('iwadh). Kalau menurut istilah adalah pengganti pembayaran dalam nikah atau sejenisnya yang dikendalikan oleh hakim atas kerelaan kedua belah pihak.

Islam mensyaratkan maskawin atau mahar bagi suami kepada istri sebagaitanda kebaikan niat suci bagi hatinya, penghormatan bagi dirinya, pengganti aturan dari tradisijahiliyah yang berlaku sebelum kedatangan Islam. Saat itu, perempuan dipandang rendah dan hina. 

Bahkan tak jarang, hak perempuan diinjak-injakdan dirampas oleh suaminya. Padahal mahar adalah milik penuh bagi istri yang tidak dapat diganggu gugat meskipun oleh walinya. Perempuan mempunyai kebebasan dan wewenang penuh atas hartanya ini untuk membelanjakan atau bershadaqah sesuka hatinya. Jadi, mahar dalam islam adalah lambang saling menghargai antara suami istri menerima penghargaan itu.

 Namun, bukan berarti mahar menjadi sesuatu yang menyulitkan. Mahar atau maskawin bukanlah satu syarat dan rukun dalam akad perkawinan, melainkan hanya salah satu hukum dan akibat dari akad nikah. 

Oleh karena itu, penyebutan mahar pada saat akad nikah bukan sesuatu yang wajib, bahkan suatu akad nikah dianggap sah, meski terjadi kesalahan dalam penyebutan mahar. (QS.Al-Baqarah: 236)

Apa saja yang disebut harta dan bernilai bagi orang adalah sah untuk dijadikan mahar. Dengan demikian, mahar bisa berupa emas, perak, barang tetap, seperti tanah yang diatasnya bisa dibangun rumah. Kenyataan yang terjadi di masyarakat,mahar biasanya disesuaikan dengan tradisi yang sudah berlaku. 

Namun perlu diingat, jangan sampai ketentuan mahar dalam tradisi itu membebankan pihak laki-laki, sehingga ia tidak bisa melakukan perkawinan disebabkan ketidakmampuannya membyar mahar karena terlalu mahal.

Lebih jelasnya, dampak negatif dari mahar yang berlebihan bisa menimbulkan dampak sosial yang berbahaya. Sebab kebutuhan biologis antara perempuan dan laki-laki tidak dapat terpenuhi. Padahal merekasudah merasa siap secara moril untuk melakukannya.

Ketertindasan kaum perempuan dari dominasi laki-laki sudah berlangsung sekian lama. Namun hadirnya islam yang disebarkan Muhammad saw. telah membuka ruang yang maksimal bagi perempuan untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum laki-laki. 

Bahkan dalam pernikahan, persoalan mahar (mas kawin) turut diatur sebagai wujud penghormatan Islam terhadap posisi perempuan.

Semoga bermanfaat... sampai ketemu di portal artikel selanjutnya ... doakan kami selalu sehat dan selalu ada waktu untuk terus berbagi.











Wanita cantik menurut Kamus Besar Islam

Sahabat Saklar Jiwa, Ini ada rahasia untuk para wanita, yakni wanita yang menjadi idaman setiap orang yang apabila ia sanggup menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia. Ciri-cinya sebagai berikut : Ingat ini rahasia! Jangan dibagikan! Biar gak banyak pesaing untuk mengejar syurga. Syurga dunia lebih-lebih syurga akhirat.

1. Beriman

Wanita muslimah adalah wanita yang beriman bahwa Allah Subhaanahu wata'ala adalah Rabbnya, dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah nabi-Nya, serta islam lah yang menjadi pedoman hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan amalannya. Serta ia akan berusaha menjauhi apa-apa yang menyebabkan Allah menjadi murka dan sangat takut dengan siksa-Nya yang sungguh sangat pedih, dan tidak akan menyimpang dari aturan-aturan-Nya.

2. Menjaga Sholat

Wanita muslimah selalu menjaga sholat lima waktu dengan wudlu'nya, serta menunaikannya dalam kekhusyukan, dan mendirikan sholat tepat pada waktunya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya dari sholat itu. Dan tidak ada sesuatu apapun yang melalaikan dari beribadah kepada Allah Subhaanahu wata'ala sehingga nampak jelas padanya hasil dari sholatnya itu. Sebab sholat dapat mecegah daripada perbuatan keji dan mungkar serta benteng dari perbuatan maksiat.

3. Menjaga Hijab

Wanita muslimah adalah yang menjaga hijabnya dengan rasa senang hati dan sebaik-baiknya. Sehingga dia tidak akan keluar kecuali dalam keadaan berhijab rapi menurut tuntunan Islam, dan mencari perlindungan Allah serta bersyukur kepadaNya atas kehormatan yang diberikan dengan adanya hukum hijab kepada para wanita, dimana Allah Subhaanahu wata'ala menginginkan terjaga kesucian baginya dengan hijab tersebut.
 4. Menjaga Kehormatan
Wanita sholehah selalu menjaga kehormatan dan ketaatan kepada suaminya, seiya sekata, sayang kepadanya, mengajaknya kepada kebaikan, menasihatinya, memelihara kesejahteraannya, tidak mengeraskan suara dan perkataan kepadanya, serta tidak menyakiti hatinya.

5. Pendidik yang Baik

Wanita muslimah adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya untuk taat dan bertakwa kepada Allah Subhaanahu wata'ala, mengajarkan kepada mereka aqidah yang benar, menanamkan ke dalam hati mereka perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjauhkan mereka dari segala jenis kemaksiatan dan perilaku tercela.

6. Patuh pada Suami

Wanita muslimah tidak berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki bukan mahramnya. Wanita sholehah dilarang bepergian jauh kecuali pergi dengan mahramnya, sebagaimana pula dia tidak boleh menghadiri pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali karena mendesak dan sudah dapat izin dari suaminya atau mahramnya.

7. Tidak Menyerupai Laki-laki dan Orang Kafir

Wanita muslimah adalah wanita yang tidak menyerupai laki-laki dalam hal-hal khusus yang menjadi ciri-ciri mereka. Juga tidak menyerupai wanita-wanita kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khusus mereka, baik dalam berpakaian, maupun dari caranya bertingkah laku dan gerak-geriknya.

8. Taat

Wanita muslimah selalu menyeru ke jalan Allah, di kalangan wanita dengan tutur kata yang baik dan sopan, baik berkunjung kepadanya, berhubungan telepon dengan saudara-saudaranya, ataupun lewat sms dan dalam lingkungannya. Di samping itu, dia juga akan mengamalkan apa yang dikatakannya serta berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa Allah. 

9. Jauh dari Syubhat dan Syahwat

Wanita muslimah selalu menjaga diri dan hatinya dari syubhat maupun syahwat. Juga memelihara matanya dari memandang sesuatu yang haram. Menjaga farjinya, memelihara telinganya dari mendengarkan nyanyian dan perbuatan dosa atau hal-hal yang dilarang. Memelihara dan menjaga semua anggota tubuhnya dari penyelewengan. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah takwa.

10. Memanfaatkan Waktu dengan Baik

Wanita muslimah selalu menjaga waktunya, memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tidak terbuang sia-sia disetiap harinya. Maka dia akan menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan hal lain yang tidak berguna.

Semoga Rahasia yang ananda muluk sampaikan ini bisa menjadikan wanita yang membacanya lebih baik dari sebelumnya dan bisa termasuk sebagai wanita tercantik dan sesuai dengan apa yang sudah dijabarkan Kamus Besar islam. Aaamiinnn. Dan bagi laki-laki yang membaca semoga bisa menjadi bekal dalam nasihat menasihati. Jaga baik baik rahasia ini oke.