Dua Momen Penting yang harus difikirkan hamba.

Ada dua momen penting yang akan dilalui seorang hamba dihadapan Rabbnya. Momen penting yang pertama berada dalam kehidupan di dunia, dan yang kedua berada dalam kehidupan akhirat kelak yaitu saat bertemu dengan Allâh Azza wa Jalla .  Jika momen pertama bagus maka itu akan membuahkan keberhasilan dan kebahagiaan pada momen kedua. Sebaliknya, jika kondisi seorang hamba pada momen pertama buruk, maka kerugian dan kebinasaan yang didapatkan pada momen kedua.
Momen pertama yang akan dilalui seorang hamba dihadapan Rabbnya yaitu (waktu) shalat yang telah Allâh Azza wa Jalla wajibkan pada para hamba-Nya sebanyak lima waktu kali sehari semalam. Orang yang menjaga, memperhatikan, dan melaksakan shalat tepat pada waktu yang telah ditentukan, kemudian dia juga menjaga dan memperhatikan syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang diwajibkan dalam shalat, maka akan mudah baginya untuk menjalani momen (kedua dihadapan Rabbnya) pada hari kiamat kelak,  dia akan selamat dan sukses meraih kebahagiaan. Namun apabila dia meremehkan momen penting yang pertama ini, dia tidak memperhatikan shalat, dan tidak menjalankan dengan rutin, tidak pula menjaga dan memperhatikan rukun-rukunnya, syarat-syarat serta hal-hal yang diwajibkan dalam shalat maka akan sulit baginya untuk melalui momen penting kedua pada hari kiamat nanti.
Imam at-Tirmizi rahimahullah dan an-Nasâ'i rahimahullah  meriwayatkan sebuah  dari Huraits bin Qabishah rahimahullah, dia berkata, "Saya datang ke kota Madinah dan meminta kepada Allâh agar memberiku teman yang shalih, lalu aku duduk dengan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan aku berkata kepadanya, 'Wahai Abu Hurairah! Aku telah meminta kepada Allâh Azza wa Jalla agar mengaruniaiku teman yang shalih, maka ajarilah aku sebuah hadits yang pernah kau dengar dari Rasûlullâh, semoga Allâh memberiku manfaat dengan hadits tersebut. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali akan dihisab (dihitung) pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya bagus maka sungguh dia telah beruntung dan sukses, (namun) sebaliknya bila shalatnya rusak maka dia akan celaka dan merugi[2]  [Hadits ini hadits shahih]
Maka hendaklah kita memperhatikan dengan seksama, bagaimana keterkaitan yang erat antara kesuksesan seorang hamba pada momen kedua dengan bagusnya seorang hamba melalui momen pertama atau hubungan erat antara kerugian pada momen kedua dengan buruknya seorang hamba melalui momen pertama.
Orang yang menyia-nyiakan (momen penting pertamanya yaitu) shalatnya, meremehkannya, tidak benar saat menunaikannya, itu artinya dia telah memposisikan diri berada dalam kerugian –rela ataupun tidak rela- pada momen kedua saat berjumpa dengan Rabbnya. Saat itu dia akan menyesal, namun semuanya sudah terlambat, penyesalannya tidak akan bisa merubah keadaan.
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Musnad, dari Abdullah bin 'Amru bin al-'Âsh c , dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya pada suatu hari Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentang shalat. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَنَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ
Barangsiapa menjaga shalatnya maka dia akan mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaga shalatnya, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, bukti, dan keselamatan, dan kelak pada hari kiamat dia akan dikumpulkan bersama Qârûn, Fir'aun, Hâmân, dan Ubay bin Khalaf[3]
Barangsiapa menyia-nyiakan shalat berarti dia telah mengukuhkan dirinya  – suka atau tidak – untuk siap dikumpulkan kelak di padang mahsyar bersama dengan para pembesar dan tokoh kekufuran dan kebatilan.  Ketika seseorang dalam kehidupan dunia telah rela disibukkan oleh kebatilan, kesesatan, kedustaan, kefasikan, dan merelakan dirinya menjadi pengikut tokoh-tokoh sesat, serta penyeru kebatilan, maka dia pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang semisal dengannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
(Kepada para Malaikat diperintahkan), "Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah [As-Shaffât/37:22]
Semua orang pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama dengan yang orang-orang yang sama dengan dia atau semisalnya dalam kehidupan dunia. Apabila saat hidup di dunia dia termasuk orang-orang yang mendirikan dan menjaga shalat di rumah-rumah Allâh (di masjid-masjid), maka dia akan mendapatkan kemuliaan di akhirat kelak dengan dikumpulkan bersama orang-orang yang senantiasa menjaga shalatnya, orang-orang yang senantiasa mentaati perintah Rabbnya, akan dikumpulkan bersama para Nabi dan orang-orang shalih. Dan sungguh mereka itu adalah sebaik-baik teman. (Namun, sebaliknya), barangsiapa tidak seperti itu keadaannya tatkala  hidup di dunia, dia terlalaikan dari shalat oleh kefasikan, kesesatan, kebatilan, dan hal-hal yang sia-sia, berarti dia tidak ingin dikumpulkan bersama orang-orang shalih di atas dan dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama orang-orang yang semisal dengan dia. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟  قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
"Semua ummatku akan masuk ke dalam surga kecuali orang yang tidak mau", Para Shahabat g bertanya, 'Wahai Rasûlullâh, siapakah orang yang tidak mau tersebut?' Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa yang mentaatiku dia akan masuk ke dalam surga, dan barangsiapa yang menyelisihiku maka sungguh dialah orang yang tidak mau"[4]
Saudaraku kaum Muslimin!
Hendaklah kita serius memikirkan dan mempersiapkan momen penting pada hari kiamat. Ingatlah momen tersebut adalah momen yang pasti akan kita lalui atau hadapi. Sebuah momen yang susah dan menakutkan. Tahukah kalian wahai saudara-saudaraku, berapa lamakah momen tersebut? Momen tersebut sebanding dengan lima puluh ribu tahun. Manusia akan berdiri pada waktu yang saat itu seharinya sebanding dengan lima puluh ribu tahun. Sebangdingkah hari itu dengan hari-hari kita saat hidup di dunia? Kita umpakan kamu hidup di dunia ini enam puluh, tujuh puluh atau delapan puluh tahun, bahkan lebih, sebandingkah tahu-tahun tersebut dengan momen yang sulit tersebut? Sebandingkah tahun-tahun yang sedikit tersebut dengan hari yang sebanding dengan lima puluh ribu tahun?
Misalkan saja umur kita enam puluh tahun, sepertiga dari usia kita telah kita habiskan untuk tidur, karena kita tidur setiap harinya kira-kira delapan jam, padahal orang yang tidur tidak dicatat amalannya. Artinya, oarng yang berumur enam puluh tahun, dua puluh tahun dari umurnya tersebut telah dia gunakan untuk tidur. Kemudian dari enam puluh tahun itu juga kira-kira lima belas tahun pertama belum terkena taklîf ( belum baligh atau belum mukallaf), jika demikian faktanya, yang tersisa bagi kita (untuk beramal) dalam kehidupan hanya beberapa tahun saja.
Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin, -semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita- hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla  dalam urusan shalat ini! Hendaklah kita terus menjaga momen ini di depan Allâh Azza wa Jalla ! Agungkanlah urusan shalat ini, maka pasti urusanmu di sisi Allâh Azza wa Jalla akan agung dan  pasti engkau mendapatkan kedudukan tinggi! Janganlah kita menyia-nyiakan shalat, karena menyia-nyiakan shalat berarti kerugian nyata.
Disebutkan dalam kitab al-Mustadrak karya al-Hâkim, dari Shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَوْمُ الْقِيَامَةِ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كَقَدْرِ مَا بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ
Bagi seorang Muslimin, hari kiamat itu seperti waktu antara shalat  Zhuhur dan Ashar[5]
Dalam hadits ini disebutkan waktu diantara dua shalat. Disini terdapat peringatan kepada kita terhadap betapa besar dan pengaruh shalat dalam merealisasikan kondisi di atas.
Maka hendaklah kita bertakwa kepada Allâh dalam urusan shalat kita, sebuah kewajiban agung yang banyak diremehkan oleh manusia. Mereka menyia-nyiakan shalat, atau menyia-nyiakan syarat, rukun, dan hal-hal yang diwajibkan dalam shalat. Padahal menyia-nyiakan shalat merupakan sebab yang bisa menghalangi seseorang dari meraih kebaikan di dunia dan di akhirat, dan juga menjadi penyebab kerugian yang nyata. Janganlah kita membiarkan diri kita rela menerima kehidupan yang hina dan merugi (akibat meninggalkan shalat).
Wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin!
Kebaikan apakah yang masih bisa diharapkan, atau keutamaan apakah yang bisa diinginkan apabila menyia-nyiakan shalat yang merupakan tali penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya?!
Ya Allâh, kami memohon kepada-Mu dengan perantara Nama-nama Mu yang paling indah dan sifat-sifat-Mu yang Maha tinggi, jadikanlah kami semua termasuk orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat.
_______
Footnote
[1] Diangkat dari kitab beliau Ta'zhîmus Shâlat, 30-35
[2] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi (413), an-Nasa'i (465)  dan hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahîh al-Jâmi' ( 2020)
[3] Musnad, no. 6576. Syaikh Bin Baz mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad hasan (Majmû Fatâwâ, 10/278)
[4] HR. Imam al-Bukhâri (7280) dari hadist Abi Hurairah Radhiyallahu anhu
[5]  (1/158) dan dishahihkan oleh Imam al-AlBani dalam Shahîh al- Jâmi' (8193)

Khasanah Islam memahami Karunia Akal

Allâh Azza wa Jalla telah menganugerahkan kepada umat manusia akal, yang dengannya mereka menjadi mampu berfikir, merenung, dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dialah yang menjadikan kalian memiliki pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kalian bersyukur [an-Nahl/16:78]
Ibnu Katsîr rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, "Allâh Azza wa Jalla memberikan mereka telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati -yakni akal yang tempatnya di hati- untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan… Dan Allâh Azza wa Jalla memberikan umat manusia kenikmatan-kenikmatan ini, agar dengannya mereka dapat beribadah kepada Rabb-nya."[1]
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , teladan umat ini telah mendorong umatnya untuk terus meningkatkan kemampuan akalnya dalam memahami agama ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدْ اللهُ بهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barangsiapa yang Allâh kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan dipahamkan dalam agamanya. [HR. Bukhâri, no. 69; Muslim, no.1719]
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka pasti Allâh Azza wa Jalla akan mempermudah baginya jalan menuju surga [HR. Muslim]
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ، إِذَا فَقُهُوا
Orang yang paling baik di masa jahiliyyah, adalah orang yang paling baik setelah masuk Islam, jika mereka menjadi seorang yang faqih (ahli dan alim dalam ilmu syariat). [HR. Bukhâri, no. 3353 ; Muslim, no. 2378]
Lihatlah bagaimana Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan dorongan kepada umatnya untuk menjadi Muslim yang benar-benar memahami syarîat Islam, dan itu tidak mungkin dicapai, kecuali dengan memanfaatkan akalnya secara maksimal.
KEUTAMAAN AKAL
Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allâh Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dengan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.
Karena besarnya karunia akal ini, Islam menggariskan banyak syariat untuk menjaga dan mengembangkannya, seperti:
Mengharamkan apapun yang dapat menghilangkan akal, baik makanan, minuman, ataupun tindakan. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
Semua yang memabukkan itu adalah khamer dan semua yang memabukkan itu adalah haram [HR. Muslim]
Islam juga memberikan hukuman khusus berupa cambuk, bagi mereka yang sengaja makan atau minum apapun yang memabukkan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِىَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَجَلَدَهُ بِجَرِيدَتَيْنِ نَحْوَ أَرْبَعِينَ. قَالَ وَفَعَلَهُ أَبُو بَكْرٍ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَخَفَّ الْحُدُودِ ثَمَانِينَ.  فَأَمَرَ بِهِ عُمَرُ
Dari Anas bin Mâlik, bahwa ada seorang lelaki yang telah minum khamr dihadapkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , lalu Beliau menderanya dengan dua pelepah kurma sebanyak 40 kali. Anas mengatakan, "Abu Bakar juga telah melakukannya. Ketika Umar (menjadi khalifah) dia meminta saran kepada para Shahabat, Abdurrahman bin 'Auf berkata, "(jadikanlah hadnya) Had yang paling ringan yaitu 80 deraan". Maka 'Umar memerintahkannya (dera 80 kali bagi pemabuk). [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]
Dalam hadits ini disebutkan bahwa ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu bermusyawarah dengan para Shahabat prihal hukuman bagi pemabuk, Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa had yang paling ringan dalam al-Qur'an adalah 80 kali dera yaitu had bagi orang yang menuduh orang lain berzina. Lalu Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menerapkan had yang paling ringan ini bagi para pemabuk.
Memasukkan akal dalam lima hal primer yang harus dijaga dalam syarîat Islam, yakni: agama, jiwa, keturunan, akal dan harta.Menjadikannya sebagai syarat utama taklîf (kewajiban dalam syariat). Oleh karena itu, ada batasan baligh, karena orang yang belum baligh biasanya kurang sempurna akalnya… Oleh karena itu pula, semua orang yang hilang akalnya, bebas atau gugur kewajibannya menjalankan syariat. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلىَ عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمُ
Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang gila yang akalnya tertutup sampai sembuh, orang yang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia baligh. [HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan ad-Daruquthni dari Shahabat 'Ali dan Umar Radhiyallahu anhuma, Syaikh al-Albani menilainya sebagai hadits shahih dalam Shahîh Jâmi', no. 3512]
Menganjurkan, bahkan mewajibkan umatnya untuk belajar. Lalu memberikan derajat yang tinggi bagi mereka yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.Melarang umatnya membaca bacaan atau mendengarkan perkataan-perkataan, yang dapat menyesatkannya dari pemahaman yang benar.
Semua hal di atas digariskan oleh Islam, terutama untuk menjaga nikmat akal, mensyukurinya, dan mengembangkannya. Bahkan dalam al-Qur'ân, sangat banyak kita dapati ayat-ayat yang mendorong manusia agar memanfaatkan akalnya untuk hal-hal yang telah digariskan dan berguna bagi manusia, terutama untuk mencari hakekat kebenaran. Berikut ini, merupakan sebagian kecil dari contoh ayat-ayat tersebut :
وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dia pula yang mengatur pergantian malam dan siang. Tidakkah kalian menalarnya?! [al-Mukminûn/23:80]
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Katakanlah: samakah antara orang yang buta dengan orang yang melihat?! Tidakkah kalian memikirkannya?! [al-An'am/6:50]
انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
Perhatikanlah, bagaimana kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda kekuasaan Kami, agar mereka memahaminya![al-An'am/6:65]
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Tidakkah mereka merenungi al-Qur'ân?! Sekiranya ia bukan dari Allâh , pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya. [an-Nisâ'/4:82]
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ﴿١٧﴾ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ﴿١٨﴾ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ﴿١٩﴾ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ ﴿٢٠﴾ فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
Tidakkah kalian memperhatikan pada unta, bagaimana ia diciptakan? Dan pada langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan pada gunung-gunung, bagaimana itu ditegakkan? Dan pada bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. [al-Ghasyiyah/88:17-21]
Islam memotivasi umatnya memanfaatkan akal untuk merenungi ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla yang tertulis dalam al-Qur'an ataupun ayat-ayat Allâh yang tergambar dan terlihat pada diri manusia itu sendiri juga semua yang terlihat di alam semesta ini.
Dalam rangka memaksimalkan fungsi dan perkembangan akal, Islam juga menghilangkan dan melarang semua yang bisa menyesatkan akal dari jalan kebenaran atau menghambat fungsi akal yang benar seperti hanya mengikuti prasangka, hal-hal khurafat (menyimpang) atau hanya mengikuti adat istiadat nenek moyang. Dengan demikian, akal akan terbebas dari segala yang membelenggunya dan bisa mengecek atau meneliti ulang segala info yang masuk kepadanya sebelum ditindaklanjuti dengan perbuatan atau menjadikannya sebagai sebuah keyakinan (akîdah) yang wajib dipegang.
Allâh Azza wa Jalla berrfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allâh," Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" [Al-Baqarah/2:170]
وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. [An-Najm/53:28]
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isra/17:36]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Al-Hujurat/49:6]
Itulah sedikit gambaran, betapa Islam sangat perhatian terhadap akal yang dianugerahkan kepada manusia. Disebabkan karena perhatian Islam yang begitu besar terhadap akal juga karena kedudukan akal yang tinggi dalam Islam, ada sebagian orang menyangka bahwa akal saja sudah cukup untuk mengetahui semua kebenaran, tidak butuh kepada wahyu. Sebuah anggapan yang sangat keliru. Jika anggapan itu benar, tentu Allâh Azza wa Jalla yang Mahatahu kemampuan akal manusia tidak akan menurunkan kitab-kitabNya dan tidak mengirimkan para Rasul-Nya untuk membimbing manusia menuju kebenaran sejati. Ini menunjukkan akal saja tidak cukup untuk mengetahui semua kebenaran hakiki.
AKAL MEMBUTUHKAN WAHYU
Betapa pun jenius dan tingginya kemampuan akal, tetap saja ia merupakan salah satu dari kekuatan manusia. Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa semua kekuatan manusia pasti memiliki batasan dan titik lemah. Tidak lain, itu disebabkan karena sumber kekuatannya adalah makhluk yang lemah, dan sumber yang lemah, tentu akan menghasilkan sesuatu yang ada lemahnya pula.
Diantara bukti adanya titik lemah pada akal manusia, adalah adanya banyak hakekat yang tidak bisa dijelaskan olehnya, seperti: hakekat ruh, mimpi, jin, mukjizatkaramah, dan masih banyak lagi. Belum lagi, seringnya kita dapati adanya perubahan pada hasil penelitiannya; dahulu berkesimpulan dunia ini datar, lalu muncul teori bulat, lalu muncul teori lonjong. Dahulu mengatakan minyak bumi adalah sumber energi tak terbarukan, lalu muncul teori sebaliknya. Dahulu mengatakan matahari mengitari bumi, lalu muncul teori sebaliknya, dan begitu seterusnya.
Kenyataan ini menunjukkan, bahwa akal tidak layak dijadikan sebagai sandaran untuk menetapkan kebenaran hakiki. Apabila ada sumber kebenaran hakiki yang diwahyukan, maka itulah yang harus dikedepankan, sedangkan akal diberi ruang untuk memahami dan menerima dengan apa adanya.
Oleh karenanya, Islam memberi ruang khusus bagi akal, ia hanya boleh menganalisa sesuatu yang masih dalam batasan jangkauannya, ia tidak boleh melewati batasan tersebut, kecuali dengan petunjuk nash-nash yang diwahyukan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, "Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan al-Qur'ân, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api" [Majmû'ul Fatâwâ, 3/338].
Karena kenyataan ini, maka hendaklah kita mengetahui batasan-batasan akal, sehingga kita tahu, kapan kita boleh melepas akal kita di lautan pandangan, dan kapan kita harus mengontrolnya dengan wahyu Allâh Azza wa Jalla. Ini merupakan bentuk lain dari penghormatan Islam terhadap akal. Islam menempatkannya pada posisi yang layak, sekaligus menjaganya agar tidak terjatuh ke dalam jurang kesesatan yang membingungkan.
Diantara beberapa hal, yang kita tidak boleh mengedepankan akal dalam membahasnya adalah:
Hal-hal yang berhubungan dengan akidah dan perkara-perkara ghaib. Seperti menetapkan atau menafikan Nama dan Sifat Allâh Azza wa Jalla , surga dan neraka, nikmat dan siksa kubur, jin dan setan, malaikat, keadaan hari kiamat, dan lain-lain.Dasar-dasar akhlak dan adab yang tidak bertentangan dengan syarîat, seperti adab makan dan minum, adab buang hajat, akhlak terhadap orang tua, sesama, dan anak kecil, dan lain-lain.Ajaran syarîat Islam, terutama dalam masalah ibadah, seperti menetapkan atau menafikan syariat shalat, zakat, puasa, haji, jihâd, dan lain-lain.[2]
Dalam perkara-perkara ini, memang dibutuhkan akal untuk memahami, merenungi, dan menyimpulkan suatu hukum dari dalil, tapi akal tidak boleh keluar dari dalil yang ada, ia tidak boleh menentangnya, ataupun mengada-ada.
Adapun yang berhubungan dengan alam semesta yang kasat-mata, maka itulah lautan luas yang diberikan kepada akal manusia untuk terus menganalisa dan meneliti, terus menemukan dan mengolahnya. Inilah yang banyak disinggung dalam firman-firman Allâh Subhanahu wa Ta'ala :
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ
Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi, serta segala sesuatu yang diciptakan Allâh ?! [al-A'râf/7:185]
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ﴿٢٠﴾وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Di bumi itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allâh bagi orang-orang yang yakin… dan juga pada diri kalian sendiri, tidakkah kalian memperhatikannya?!  [adz-Dzariyât/51:20-21]
أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ﴿٦﴾وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ﴿٧﴾تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ
Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangun dan menghiasinnya dan tidak ada keretakan sedikitpun padanya?… Dan (bagaimana) bumi Kami hamparkan, Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan di atasnya tanaman-tanaman yang indah… Agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepadaNya). [Qaf/50:6-8]
AKAL BUKAN SEBAGAI HAKIM, NAMUN ALAT UNTUK MEMAHAMI
Setelah kita memahami uraian di atas, tentu kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa akal merupakan nikmat yang sangat agung, namun ia bukanlah segalanya. Kita harus menempatkannya pada tempat yang layak, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak bisa dijangkau olehnya.
Jika ada keterangan wahyu dalam masalah apapun, maka itulah yang harus didahulukan, dan akal harus menyesuaikan dengannya, memahaminya, dan menerimanya dengan apa adanya. Memang, kadang keterangan wahyu menjadikan akal tertegun, namun ia tidak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil.
Akhirnya, penulis akan tutup tulisan ini, dengan perkataan yang layak ditorehkan dengan tinta emas, dari salah seorang Ulama besar Islam, beliau adalah Ibnu Abil Izz rahimahullah :
Telah datang keterangan dalam banyak hadits yang telah mencapai derajat mutawatir, tentang adanya adzab kubur dan nikmatnya bagi orang yang berhak, serta pertanyaan kubur bagi mereka yang mukallaf. Maka itu wajib diyakini dan diimani kebenarannya, dan kita tidak boleh membicarakan tentang gambaran detailnya, karena memang akal tidak boleh menerka gambaran detailnya, demikian itu, karena akal tidaklah menyaksikan kecuali dunia yang ada ini. Dan Syariat tidak akan datang dengan sesuatu yang dimustahilkan akal, meski kadang datang dengan sesuatu yang membingungkannya. [Syarhu Aqîdah Thahâwiyyah, hlm.  399]
Sekian, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
________
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir (4/590), dengan sedikit penyesuaian.
[2] Lihat kitab al-Islam wal' Aql, karya: Abdul Halim Mahmud, hlm. 30

Khasanah Islam - Belajar lulus dari Ujian Allah

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bercerita bahwa dulu di kalangan Bani Israil ada tiga orang: belang (sopak), botak, dan buta. Allah Subhaanahu wa Ta'ala hendak menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat untuk datang kepada orang yang belang (sopak), lalu bertanya kepadanya: "Apakah yang anda inginkan?"

"Warna yang bagus dan kulit yang baik," jawab orang itu. "Sebab, kini aku telah dijauhi orang."
Maka diusaplah badan orang itu oleh malaikat itu, sehingga dengan izin Allah hilanglah penyakitnya dan kulitnya berubah menjadi sangat bagus dengan warna yang indah.
Lalu orang itu ditanya lagi, "Harta kekayaan apakah yang engkau inginkan?"
"Onta," jawabnya.
Maka diberinya onta betina yang sedang bunting sambil didoakan semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala memberkahinya.

Setelah itu, malaikat tersebut mendatangi orang yang botak dan bertanya, "Apakah gerangan yang anda inginkan?"
"Rambut yang bagus," jawabnya dengan mantap. "Dan hilangkan botakku ini, sebab orang selalu mengejekku."
Lalu malikat itu mengusap kepalanya dan dengan izin Allah botaknya langsung hilang dan rambutnya tumbuh kembali dengan cukup bagus. Orang itu kemudian ditanya, "Kini harta kekayaan apa yang anda inginkan?"
"Sapi," jawabnya.
Orang itu kemudian diberi sapi betina yang sedang bunting sambil didoakan semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala memberkatinya.

Dan terakhir, malaikat datang pada orang yang buta dan bertanya, "Apakah yang anda inginkan?"
"Aku ingin sekiranya Allah mengembalikan penglihatan mataku, supaya aku dapat melihat segala sesuatu," jawabnya meminta. Maka diusaplah kedua matanya oleh malaikat itu, dan dengan izin Allah seketika itu pula ia dapat melihat kembali.
"Sekarang harta kekayaan apa yang engkau inginkan?"
"Kambing," jawabnya.
Ia kemudian diberi kambing betina yang sedang bunting.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan, serta tahun pun berganti tahun. Seiring itu pula hewan-hewan ternak ketiga orang itu bertambah banyak. Hingga akhirnya masing-masing telah memiliki satu lembah onta, satu lembah sapi, dan satu lembah kambing.

Malaikat itu kemudian kembali datang pada orang yang dulunya belang (sopak). Kedatangannya kali ini sengaja menyamar seperti bentuk rupa orang itu ketika masih belang dulu. Setelah sampai di tempat orang itu, ia berkata, "Saya ini orang miskin yang tengah putus perjalanan dan kehilangan kontak. Maka tiada yang dapat menyampaikan aku pada tujuan, kecuali pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta'ala kemudian bantuanmu. Aku mohon padamu, demi Allah yang memberimu warna dan kulit yang bagus serta kekayaan, agar memberiku satu onta untuk menyampaikan aku pada tujuanku bepergian ini."
Mendengar ucapan yang demikian, orang itu kemudian menjawab: "Hak-hak orang lain masih banyak."
"Aku seperti kenal denganmu," sahut malaikat itu, "Tidakkah anda dulu belang, dibenci orang, lagi miskin, setelah itu anda diberi kekayaan oleh Allah?"
"Sungguh aku mewarisi harta kekayaan ini dari orang tuaku," jawabnya membantah.
"Jika anda berdusta, semoga Allah mengembalikan anda pada keadaan yang dulu," kata malaikat.

Setelah itu, malaikat tersebut datang pada orang yang dahulunya botak dengan menyamar menyerupai bentuknya ketika masih botak. Saat tiba di tempat orang itu, malaikat berkata padanya sebagaimana yang dikatakan pada orang pertama tadi. Ternyata jawabannya sama saja dengan orang sopak tadi, sehingga malaikat mendoakan pula, "Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikan engkau pada keadaanmu dahulu."

Terakhir, malaikat itu datang pada orang yang dulunya buta. Ia berkata, "Seorang miskin yang dalam perjalanan telah putus hubungan. Maka aku takkan dapat sampai pada tujuanku kecuali dengan pertolongan Allah melalui perantaraan bantuanmu. Aku mohon demi Allah, Dia-lah yang telah mengembalikan penglihatanmu dan memberimu kekayaan, oleh karena itu berilah aku seekor kambing untuk bekal yang dapat mengantar aku sampai pada tujuanku."
"Benar," jawab orang itu, "Dahulu aku buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku, dan miskin, lalu Allah memberiku harta kekayaan. Karena itu, sekarang ambillah sesukamu. Demi Allah, aku takkan keberatan dengan sesuatu yang engkau ambil karena Allah."
Maka malaikat pun berkata: "Tahanlah hartamu. Kamu bertiga sebenarnya sedang diuji oleh Allah. Maka Allah pun ridha padamu dan murka pada dua orang teman itu." (HR Bukhari & Muslim).

Oleh karena itu, dapatlah dimengerti bahwa kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan lain sebagainya merupakan ujian dari Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Banyak orang yang berhasil melewati ujian ketika ia sakit, miskin, dan sebagainya. Namun, amatlah sedikit orang yang berhasil melewati ujian dalam keadaan sehat, kaya, dan sejahtera, tinggi jabatan dan kedudukan. Kecuali hamba-hamba Allah yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.


Best Regards CEO and FOUNDER   Ensiklopedi Mas Muluk
Penyedia Ilmu - Pengantar Mencapai Pencerahan jiwa - Lampung


Adi bin Hatim at-Tha'i

Pada tahun kesembilan hijriyah, beberapa raja Arab yang melarikan diri mulai mendekat kepada Islam. Hati mereka lembut menerima iman setelah menentang keras. Mereka menyerah, tunduk, dan patuh kepada Rasulullah saw sesudah enggan. Tersebutlah kisah "Adi bin Hatim at-Tha'i" yang pemurah seperti bapaknya.

Adi mewarisi kepemimpnan dari bapaknya. Karena itu, suku at-Tha'i mengangkatnya jadi penguasa suku tersebut. Kaum Tha'i mengeluarkan seperempat harta mereka sebagai pajak yang diserahkannya kepada Adi, sebagai imbalan bagi kepemimpinannya memimpin suku tersebut.

Tatkala Rasulullah saw memkoklamirkan dakwah Islam, bangsa Arab mendekat kepada Rasulullah suku demi suku. Adi melihat pengaruh Rasulullah saw sebagai suatu ancaman yang akan melenyapkan kepemimpinannya. Karena itu, dia memusuhi Rasulullah saw dengan sikap keras. Padahal dia sendiri belum mengenal pribadi Nabi saw yang mulia itu. Dia benci kepada Rasulullah saw sebelum bertemu dengan orangnya. Hampir dua puluh tahun lamanya dia memusuhi Islam, sampai pada suatu hari hatinya lapang menerima dakwah yang hak itu.

Islamnya Adi mempunyai kisah tersendiri yang tak dapat dilupakannya. Karena itu, marilah kita simak, dia menceritakan kisahnya sendiri, kisah yang menarik dan patut dipercaya. 'Adi berkata:

Tidak seorang pun bangsa Arab yang lebih benci daripada aku terhadap Rasulullah saw ketika aku mendengar berita tentang beliau dan kegiatan dakwahnya. Aku seorang pemimpin yang dihormati. Aku tinggal dengan kaumku dalam daerah kekuasaanku. Aku memungut pajak dari mereka seperempat dari penghasilan mereka, sama dengan yang dilakukan raja-raja Arab yang lain. Karena itu ketika aku mendengar da'wah Rasulullah saw, aku membencinya. Ketika pengaruh dan kekuatan Rasulullah saw b ertambah besar dan tentaranya bertambah banyak yang tersebar di Timur dan Barat negeri Arab, aku berkata kepada sahaya gembala ontaku, "Hai, anak manis! Siapkan onta betina yang gemuk dan jinak, lalu tambatkan selalu di dekatku. Bila kamu dengar tentara Muhammad atau ekspedisinya menjejakkan kaki di negeri ini, beritahukan kepadaku segera!"

Maka, pada suatu pagi sahayaku datang menghadap kepadaku. Katanya, "Wahai Tuanku! Apa yang akan Tuanku perbuat jika tentara berkuda Muhammad datang ke negeri ini, maka lakukanlah sekarang!" Tanyaku, "Mengapa?" Jawabnya, "Hamba melihat beberapa bendera sekeliling kampung. Lalu aku bertanya, bendera apa itu. Jawabnya, itulah bendera tentara Muhammad ".

Kemudian, aku perintahkan kepada sahayaku, "siapkan onta yang kuperintahkan kepadamu, bawa kemari."Aku bangkit, ketika itu juga aku memanggil istri dan anak-anakku untuk segera berangkat ke negeri yang kami anggap aman, (Syam). Di sana kami bergabung dengan orang-orang seagama dengan kami dan bertempat tinggal di rumah mereka. Aku terburu-buru mengumpulkan semua keluargaku. Setelah melewati tempat yang mencemaskan, ternyata ada di antara keluargaku yang tertinggal. Saudara perempuanku tertinggal di negeri kami, Nejed, beserta pendduk Tha'i yang lain. Tidak ada jalan lain bagiku untuk mendapatkannya kecuali kembali ke Tha'i. Aku terus berjalan dengan rombonganku sampai ke Syam dan menetap di sana di tengah-tengah penduduk yang seagama denganku. Saudara perempuanku aku biarkan tertinggal di Tha'i, tetapi mencemaskan hatiku.

Sementara, ketika berada di Syam, aku mendapatkan berita, tentara berkuda Muhammad menyerang negeri kami. Saudara perempuanku tertangkap beserta sejumlah wanita menjadi tawanan, kemudian mereka dibawa ke Yatsrib. Di sana mereka ditempatkan dalam sebuah penjara dekat pintu masjid. Ketika Rasulullah saw lewat, saudaraku menyapa, "Ya Rasulullah! Bapakku telah binasa. Yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkan kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda." Rasul bertanya, "Siapa yang menjamin engkau?" Jawab saudaraku, "Adi bin Hatim!" Rasululah menjawab, "Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya." Sesudah berkata begitu, Rasulullah pergi meninggalkannya. Besok pagi Rasulullah lewat pula dekat saudaraku. Saudaraku berkata pula seperti kemarin kepada beliau. Dan beliau menjawab seperti kemarin pula. Hari ketiga Rasulullah lewat, saudaraku lupa menyapa beliau dan tidak berkata-kata kepadanya. Seorang laki-laki memberi isyarat kepadaku supaya menyapa beliau. Saudaraku berdiri menghampiri Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah! Bapakku telah meninggal. Yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda."

Rasulullah menjawab, "Saya penuhi permintaanmu!" Saudaraku berujar, "Saya ingin pergi ke Syam menemui keluargaku di sana." Rasulullah saw berkata, "Tetapi, engkau jangan terburu-buru pergi ke sana, sebelum engkau dapatkan orang yang dapat dipercaya dari kaummu untuk mengantarmu. Bila engkau dapatkan orang yang dipercaya, beri tahukan kepada saya."

Setelah Rasulullah pergi, saudaraku menanyakan siapa laki-laki yang memberi isyarat kepadanya supaya menyapa Rasulullah. Dikatakan orang kepadanya, orang itu adalah Ali bin Abu Thalib.

Saudaraku tinggal di Madinah sebagai tawanan sampai datang orang yang dipercaya untuk membawanya ke Syam. Setelah orang itu datang, dia memberitahu kepada Rasulullah. Katanya, 'Ya Rasulullah! Telah datang serombongan kaumku yang dipercaya dan mereka menyanggupi mengantarku. Rasulullah memberi saudaraku pakaian, onta untuk kendaraan dan belanja secukupnya. Maka berangkatlah dia beserta rombongan tersebut.

Kata Adi, selanjutnya, "Kami selau mencari-cari berita tentang saudaraku itu dan menunggu kedatangannya. Kami hampir tidak percaya apa yang diberitakan kepada kami tentang Muhammad dengan segala kebaikan beliau terhadap saudaraku, di samping rasa tinggiku dari beliau.

Demi Allah! Pada suatu hari ketika aku sedang duduk di lingkungan keluargaku, tiba-tiba muncul seorang wanita dalam hawdaj(sekedup) menuju ke arah kami. Aku berkata, "Nah, itu anak perempuan Hatim!" Dugaan itu betul. Dia adalah saudaraku yang ditunggu-tunggu.

Setelah turun dari kendaraan, dia segera menghampiriku seraya berkata, "Anda tinggalkan kami, Anda dzalim! Istri dan anak-anak Anda, Anda bawa. Tetapi, bapak dan saudara perempuan Anda, serta yang lainnya Anda tinggalkan."

Aku menjawab, "Hai Adikku! Janganlah berkata begiutu!" Aku berhasil menenangkannya. Setelah itu aku minta dia menceritakan pengalamannya. Selesai bercerita, aku berkata kepadanya, "Engkau wanita cerdik dan pintar. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang bernama Muhammad itu?" Dia menjawab, "Menurut pendapatku, demi Allah sebaiknya Anda temui dia segera. Jika dia Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya beruntunglah dia. Dan jika dia raja, tidak ada hinanya Anda berada di sampingnya. Anda adalah seorang raja pula."

Adi berkata, "Maka, aku siapkan perlengkapanku, lalu aku pergi ke Madinah menemui Rasulullah saw. Tanpa Iman dan Kitab, aku mendengar berita bahwa beliau pernah berkata, "Sesunguhnya saya berharap semoga 'Adi bin Hatim masuk Islam di hadapan saya." Aku masuk ke majlis Nabi saw, ketika beliau berada di dalam masjid. Aku memberi salam kepadanya. Mendengar salamku beliau bertanya, "Siapa itu?" Jawabku, "'Adi bin Hatim!"

Rasululah saw berdiri menyongsongku. Beliau menggandeng tanganku lalu dibawanya ke rumahnya. Ketika beliau membawaku, tiba-tiba seorang wanita tua yang dhaif (lemah) sedang menggendong seorang bayi, menemuinya minta sedekah. Wanita tua itu berbicara dengan beliau mengatakan kesulitan hidupnya. Beliau berhenti mendengarkan bicara wanita itu sampaui selesai. Dan aku pun tegak menunggumu.

Aku berkata kepada diriku, "Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja!" Kemudian beliau menggandeng tanganku dan berjalan bersama-sama denganku sampai ke rumah beliau. Tiba di rumah, beliau mengambil sebuah bantal kulit yang diisi dengan sabut kurma, lalu diberikannya kepadaku. Beliau berkata, "Silahkan Anda duduk di atas bantal ini!" Aku malu. Karena itu aku berkata, "Andalah yang pantas duduk di situ." Jawab Rasulullah, "Anda lebih pantas." Aku menuruti kata beliau. Lalu aku duduk di atas bantal. Nabi saw duduk di tanah, karena tidak ada lagi bantal lain selain yang satu itu. Aku berkata dalam diriku, "Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja." Kemudian, beliau menoleh kepadaku seraya berkata, "Hai Adi! Sudahkah Anda membanding-bandingkan agama yang Anda anut, antara Nasrani dengan Shabiah?" Jawabku, "Sudah." Beliau bertanya lagi, "Bukankah Anda memungut pajak dari rakyat Anda seperempat penghasilan mereka. Bukankah itu tidak halal menurut agama Anda?" Jawabku, "Betul". Sementara itu, aku telah yakin Muhammad ini sesungguhnya Nabi dan rasul Allah. kemudian, beliau berkata pula, "Hai 'Adi! Agaknya Anda enggan masuk Islam karena pernyataan yang Anda lihat tentang kaum muslimin, mereka miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan berlimpah-ruah di kalangan mereka, sehingga susah didapat orang yang mau menerima sedekah.

Atau barangkali Anda hai Adi enggan masuk agama ini karena kaum muslimin sedikit jumlahnya sedangkan musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar berita seorang wanita datang dari Qadisiyah mengendarai onta ke Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah.

Atau mungkin juga Anda enggan masuk Islam karena ternyata raja-raja dan para Sultan terdiri dari orang-orang yang bukan Islam. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar Istana Putih di negeri Babil (Iraq) direbut kaum muslimin dan kekayaan Kisra bin Hurmuz pindah menjadi milik mereka.

Aku bertanya kagum, "Kekayaan kisra bin Hurmuz?" Jawab beliau, "Ya kekayaan Kisra bin Hurmuz."
Adi berkata, "Maka seketika itu juga aku mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan beliau dan aku menjadi muslim."

Adi bin Hatim dikaruniai Allah usia yang panjang. Adi bercerita lagi, "Dua perkara yang dikatakan Rasulullah sudah terbukti kebenarannya. Tinggal lagi yang ketiga. Namun, itu pasti terjadi. Aku telah menyaksikan seorang wanita berkendaraan onta datang dari Qadisiyah tanpa takut kepada siapa pun, sehingga dia sampai ke Baitullah. Dan aku adalah tentara berkuda yang pertama-tama menyerang masuk ke gudang perbendaharaan Kisra dan merampas harta kekayaannya. Aku bersumpah demi Allah, yang ketiga pasti akan terjadi pula.

Allah pasti membuktikan setiap perkataan Nabi-Nya yang mulia. Peristiwa ketiga terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Yakni, ketika kemakmuran merata di kalangan kaum muslimin. Ketika itu setiap orang mencari-cari dengan susah payah orang yang berhak menerima zakat. Tetapi, mereka tidak mendapatkan orang yang mau menerima, karena kaum muslimin hidup berkecukupan seluruhnya. Memang benar ucapan Rasulullah dan tepat pula sumpah yang diucapkan Adi bin Hatim. Semoga Allah meridhainya.


Best Regards CEO and FOUNDER   Ensiklopedi Mas Muluk
Penyedia Ilmu - Pengantar Mencapai Pencerahan jiwa - Lampung
Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah, Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya

Abdullah bin Ummi Maktum

Siapakah laki-laki itu, yang karenanya Nabi yang mulia mendapat teguran dari langit dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah ke dalam hati Nabi yang mulia? Dia tidak lain adalah Abdullah bin Ummi Maktum, muazzin Rasulullah.

Abdullah Ummi Maktum, orang Mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasulullah saw., yakni anak paman ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid r.a. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar "ummi maktum", karena anaknya, Abdullah, lahir dalam kedaan buta total.

Ketika cahaya Islam mulai memancar di Mekah, Allah melapangkan dada Abdullah bin Ummi Maktum menerima agama baru itu. Karena itu, tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, Abdullah turut menanggung segala macam suka dan duka kaum muslimin di Mekah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti yang diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindak kekerasan lainnya. Tetapi, apakah karena tindak kekerasan itu lantas Ibnu Ummi Maktum menyerah? Tidak?! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan, dia semakin teguh berpegang pada agama Islam dan kitab Allah (Alquran). Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering mendatangi majlis Rasulullah.

Begitu rajin dan rakusnya dia mendatangi majlis Rasulullah, menyimak dan menghafal Alquran, sehingga tiap waktu senggang selalu diisinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu direbutnya. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkan dari Rasulullah, disamping keuntungan bagi yang lain-lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah saw. sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, seraya mengharap semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, 'Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah, ayah Saifullah Khalid bin Walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba Abdullah bin Ummi Maktum datang mengganggu minta dibacakan kepada ayat-ayat Alquran. Kata Abdullah, "Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!"

Rasulullah terlengah memperdulikan permintaan Abdullah. Bahkan, beliau agak acuh terhadap interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah saw. bermaksud pulang. Tetapi, tiba-tiba penglihatan beliau menjadi gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian, Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau, "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki, tentulah ia memperbaikinya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti." (Abasa: 1 -- 6).

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril al-Amin ke dalam hati Rasulullah saw. sehubungan dengan peristiwa Abdullah bin Ummi Maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah saw. tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilakan duduk di tempat duduknya, beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan Abdullah sedemikian rupa, bukankah teguran dari langit itu sangat keras!

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi-jadi, Allah SWT mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas meninggalkan tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama-sama Mush'ab bin Umair, sahabat-sahabat Rasul saw. yang pertama-tama tiba di Madinah. Setibanya di Yatsrib (Madinah), Abdullah dan Mush'ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Alquran dan mengajarkan pengajaran Islam.

Setelah Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau mengangkat Abdullah bin Ummu Maktum serta Bilal bin Rabah menjadi muadzdzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid (azan) lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal azan, Abdullah Qamat; Abdullah azan, Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal azan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur dan Abdullah azan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa.

Untuk memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi wali kota Madinah menggantikan beliau apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada Abdullah. Salah satu di antaranya ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Mekah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badar, Allah menurunkan ayat-ayat Alquran, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati Abdullah Ummi Maktum. Tetapi, baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi perang." Kemudian, dia memohon kepada Allah dengan hati yang penuh tunduk semoga Allah menurunkan ayat-ayat yang menerangkan tentang orang-orang yang cacat (uzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak berperang. Dia senatiasa berdoa dengan segala kerendahan hati. Dia berkata, "Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang uzur seperti aku!" Tidak berapa lama, kemudian Allah SWT memperkenankan doanya.

Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah saw. yang bertugas menuliskan wahyu, menceritakan, "Aku duduk di samping Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, "Tulis, hai zaid!" Lalu aku menuliskan, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah." (An-Nissa': 95).

Ibnu Ummi Maktum berdiri seraya berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang) karena cacat?" Selesai pertanyaan Abdullah, Rasulullah saw. terdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah saw. berkata, "Coba, baca kembali yang telah engkau tulis!" Aku membaca, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang)" Lalu kata beliau, "Tulis!" "Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu."

Maka, turunlah pengecualian yang ditunggu-tunggu Ibnu Ummi Maktum. Meskipun Allah SWT telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang yang uzur seperti dia untuk tidak berjihad, dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekad untuk turut berperang fi sabiilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan yang besar. Maka, karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan tugasnya sendiri untuk berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, "Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari."

Tahun ke empat belas hijriyah, khalifah Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintah yang dzalim dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. Umar memerintahkan kepada setiap gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya. "Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang-orang yang bersenjata, atau orang yang mempunyai kuda, atau yang berani atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!"

Maka, berkumpullah kaum muslimin di Madinah dari segala penjuru, memenuhi panggilan khalifah Umar bin Khaththab. Di antara mereka terdapat seorang prajurit buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Khalifah Umar mengangkat Sa'ad bin Abu Waqqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian, khalifah memberikan instruksi-instruksi dan pengarahan kepada Sa'ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyyah, Abdullah bin Ummi Maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ketiga perang itu, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka, pindahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin, dan runtuhlah mahligai yang termegah. Berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa dan ratusan para syuhada. Di antara mereka yang syahid itu terdapat Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk darah kaum muslimin.



 Ensiklopedi Mas Muluk
Penyedia Ilmu - Pengantar Mencapai Pencerahan jiwa - Lampung
​Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah, Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya​


Hak Allah yang wajib dipenuhi hamba.

Dari Mu'âdz bin Jabal[1] Radhiyallahu anhu , ia berkata, "Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:

يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا

Wahai Mu'âdz! Tahukah engkau apa hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allâh?' Aku menjawab, 'Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allâh ialah sesungguhnya Allâh tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.' Aku bertanya, 'Wahai Rasûlullâh! Tidakperlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Janganlah kausampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri (kepada hal ini dan tidak beramal shalih)'."

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih.Diriwayatkan oleh:

Al-Bukhâri, no. 2856, 5967, 6267, 6500, 7373Muslim, no. 30,Ahmad, V/228, 230, 236, 242,Abu Dâwud, no. 2559,At-Tirmidzi, no. 2643,An-Nasa`i dalam as-Sunanul Kubra, no. 9943,Ibnu Mâjah, no. 4296,Abu 'Awanah, I/16,Abu Dâwud ath-Thayâlisi, no. 566,Ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabîr, XX/no. 256,Dan lainnya.

Lafazh yang dibawakan adalah salah satu riwayat Muslim, sementara dalam salah satu riwayat al-Bukhâri ada tambahan, "Lalu di akhir hayatnya, Mu'âdz mengabarkan hadits ini (kepada manusia) karena takut dosa (menyembunyikan ilmu)."

KOSA KATA HADITS

دَرَى- يَدْري- دِرَايَةً: mengetahui, dan ad-dirâyah adalah al-ma'rifah (pengetahuan).حَقُّ اللهِ: Apa yang menjadi hak Allâh atas hamba-Nya, yang Allâh jadikan sebagai kewajiban atas mereka, serta menekankannya dengan firman-Nya.[2]العِبَادَةُ :Merendahkan diri dan tunduk.

SYARH HADITS

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menjelaskan kewajiban bertauhid atas para hamba dan keutamaannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyajikannnya dalam bentuk pertanyaan, agar lebih berpengaruh pada jiwa dan lebih mudah dipahami oleh orang yang belajar. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada Mu'âdz Radhiyallahu anhu tentang keutamaan tauhid, Mu'âdz meminta izin kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada umat manusia guna menyenangkan mereka. Tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya karena Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam khawatir manusia akan bersandar kepada hal tersebut dan kurang melakukan amal shalih.[3]

Perkataan Mu'âdz Radhiyallahu anhu , "Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas seekor keledai," menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tawâdhu'. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam makhluk yang paling mulia secara mutlak, namun Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mau membonceng sahabatnya.

Perkataan Mu'adz Radhiyallahu anhu , "Lalu Beliau bersabda kepadaku, 'Wahai Mu'âdz!'" Di sini Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin mengajari Mu'âdz Radhiyallahu anhu sebuah hukum yang agung, dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menyampaikannya dengan metode tanya-jawab, agar hal tersebut lebih dapat mengundang perhatian. Pembelajaran dengan metode soal-jawab termasuk metode paling bagus dan berhasil dalam mengajarkan ilmu. Kita bertanya kepada murid tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, lalu kita berikan jawabannya, lebih bagus daripada kita langsung memulai dengan menyampaikan sebuah masalah, padahal murid sedang tidak perhatian atau belum siap menerimanya. Ini adalah salah satu metode pengajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sering Beliau gunakan.

Ketika Mu'âdz Radhiyallahu anhu ditanya tentang sebuah masalah besar oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , dia Radhiyallahu anhu berkata, "Allâh dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Ini merupakan adab penuntut ilmu. Jika ia ditanya tentang sesuatu dan ia tidak mengetahuinya, maka hendaklah dia mengatakan "Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Janganlah dia mereka-reka sesuatu yang tidak ia ketahui, tetapi kembalikanlah urusan itu kepada ahlinya.

Ini juga merupakan metode pembelajaran yang berhasil, yaitu seseorang jika ditanya tentang suatu ilmu atau masalah yang tidak ia ketahui, maka dia akan menjawab, "Saya tidak tahu." Atau " Allahu a'lam (Allâh yang lebih mengetahui)." Dan itu tidak mengurangi harga dirinya atau merendahkan martabatnya, tidak seperti perkiraan sebagian orang. Bahkan hal itu bisa mengangkat derajatnya karena itu bis menjadi bukti keagungan kedudukan, ketaqwaan, kekuatan agama, kesucian hati, dan kesempurnaan pengetahuannya.

Imam asy-Sya'bi rahimahullah (wafat th. 105 H) mengatakan, "(Perkataan seseorang) 'aku tidak tahu' adalah setengah dari ilmu."[4]

'Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (wafat th. 198 H) berkata, "Ada seorang dari Maghrib (Maroko) bertanya kepada Imam Mâlik bin Anas t (wafat th. 179 H) tentang suatu masalah, Imam Mâlik t pun berkata, 'Lâ adri(saya tidak tahu).' Orang itu pun berkata, 'Wahai Abu 'Abdillah (kun-yah Imam Mâlik), engkau berkata tidak tahu??' Imam Mâlik rahimahullah menjawab, 'Ya, sampaikan kepada orang-orang di belakangmu (di negerimu) bahwa aku tidak tahu.'"[5]

Kita wajib mengembalikan ilmu kepada ahlinya (para ulama), dan tidak boleh ikut campur dalam sesuatu yang tidak kita ketahui hukumnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Al-Isrâ`/17:36]

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allâh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. [Al-An'âm/6:144]

Dan banyak lagi ayat-ayat serta hadits-hadits yang menjelaskan ini. Oleh karena itu, orang yang ingin dirinya selamat, serta orang lain juga selamat, janganlah ikut campur pada sesuatu yang tidak ia ketahui, karena itu akan menyulitkan dirinya dan orang lain. Jika ia nekad menjawab dan salah, berarti ia telah menyesatkan umat manusia. Ini adalah masalah besar yang wajib kita pikirkan. Seseorang tidak boleh terburu-buru dalam menjawab suatu hal, kecuali jika dia telah mengetahuinya dengan sempurna. Jika tidak, maka berhentilah di tepi pantai keselamatan, jangan masuk ke dalam lautan jika tak pandai berenang.

Perkataan 'Allâh dan Rasul-Nya lebih mengetahui' dikatakan pada saat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah wafat, maka kita katakan, 'Allâhu a'lam'. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berpindah dari alam dunia ke alam akhirat, maka ilmu dikembalikan kepada Allâh Azza wa Jalla , karena Allâh Azza wa Jalla yang memberikan Rasul-Nya ilmu yang agung,

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

 dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allâh yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar … [An-Nisâ`/4:113]

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki ilmu dari Allâh Azza wa Jalla dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab semasa hidupnya, adapun setelah wafatnya, maka Beliau telah menyelesaikan tugas dan risalahnya, dan tidak lagi menjawab suatu masalah.

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا

Hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Ini adalah hak Allâh atas hamba-Nya, hak yang paling pertama dan yang paling pasti. Karena manusia menanggung hak-hak yang wajib ia penuhi. Hak yang paling besar adalah hak Allâh, hak kedua orang tua, sanak kerabat, kemudian hak anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, dan para pemimpin (hak ulil amri). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Dan beribadahlah kepada Allâh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. [An-Nisâ`/4:36]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sepuluh hak, yang paling pertama adalah hak Allâh, yaitu beribadah hanya kepada Allâh saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun juga.

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut istilah syar'i (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

Ibadah adalah taat kepada Allâh Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para Rasul-Nya.Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.[6]Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allâh Azza wa Jalla , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.

Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.[7]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Nûniyyah-nya tentang makna ibadah,

وَعِبَادَةُ الرَّحْمٰنِ غَايَةُ حُبِّــهِ مَعَ ذُلِّ عَابِـدِهِ هُمَـا قُـطْبَـانِ

وَعَلَيْهِمَا فَلَكُ الْعِبَادَةِ دَائِرٌ          مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الْقُـطْبَـانِ

وَمَدَارُهُ بِالْأَمْرِ أَمْرِ رَسُوْلِـهِ           لَا بِالْهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ

Ibadah kepada Allâh adalah puncak cinta (yang sangat) kepada-Nya

Disertai ketundukan hati orang yang beribadah kepada-Nya, keduanya adalah poros (ibadah)

Di atas kedua poros tersebutlah garis ibadah berputar

Dia tidak akan berputar sampai dua poros tersebut tegak

Porosnya adalah (melaksanakan) agama – yaitu agama (yang dibawa oleh) Rasul-Nya

Bukan mengikuti hawa nafsu, dorongan hati, dan bukan pula mengikuti syaithan[8]

Tidak cukup hanya beribadah kepada-Nya saja, tetapi juga tidak boleh menyekutukannya dengan suatu apa pun. Karena ibadah tidak akan menjadi ibadah kecuali dengan berlepas diri dan bersih dari syirik. Adapun jika sudah tercampur syirik, maka tidak lagi dinamakan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya. [Al-Kahfi/18:110]

Syirik membatalkan ibadah dan membatalkan seluruh amalan. Amalan yang di dalamnya ada syirik tidak akan sah. Jika seseorang membebani dirinya dengan berbagai ibadah, tetapi dia berbuat syirik besar, maka ibadahnya batal, terhapus, dan tidak ada nilainya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allâh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. Karena itu, hendaklah Allâh saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur. [Az-Zumar/39:65-66]

Syirik menghapus semua amalan. Oleh karena itu, banyak perintah beribadah kepada Allâh diiringi dengan larangan dari perbuatan syirik.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan beribadahlah kepada Allâh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun…" [An-Nisâ`/4:36]

Inilah makna Lâ Ilâha Illallâh, karena Lâ Ilâha Illallâmemiliki dua rukun, nafi dan itsbatNafi yaitu menafikan kesyirikan dan itsbât yaitu menetapkan tauhid.[9]

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا

Hendaklah mereka beribadah kepada Allâh saja.

Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari'atkan kecuali berdasarkan al-Qur'ân dan as-Sunnah. Ibadah yang tidak disyari'atkan berarti bid'ah mardudah (bid'ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.[10]

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:

Pertama: Ikhlas karena Allâh semata, bebas dari syirik besar dan kecil.

Kedua: Ittiba', sesuai dengan tuntunan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam .

Syarat pertama merupakan konsekuensi dari syahadat lâ ilâha illallâh, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allâh dan jauh dari syirik. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadatMuhammad Rasûlullâh, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam , mengikuti syari'atnya dan meninggalkan bid'ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerah-kan diri sepenuhnya kepada Allâh, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. [Al-Baqarah/2:112]

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allâh. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, "Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari'atkan, tidak dengan bid'ah. Allâh berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya. [Al-Kahfi/18:110]

Hal yang demikian itu merupakan realisasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Lâ ilâha illallâh, Muhammad Rasûlullâh.

Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwa Muhammad n adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya, maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid'ah. Beliau (Rasûlullâh) Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat."[11]

Bila ada orang yang bertanya, "Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?"

Jawabnya adalah sebagai berikut:

Pertama: Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta'ala di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Maka beribadahlah kepada Allâh dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. [Az-Zumar/39:2]

Kedua: Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla mempunyai hak dan wewenang Tasyrî(memerintah dan melarang). Hak Tasyri' adalah hak Allâh semata. Barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang di-perintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya dalam Tasyrî'.

Ketiga: Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama bagi kita. Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).

Keempat: Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari'at yang diajarkan Allâh dan Rasul-Nya.[12]

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Hak para hamba yang pasti dipenuhi Allâhialah sesungguhnya Allâh tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Ini merupakan karunia dan rahmat Allâh, karena menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jamâ'ah, Allâh Azza wa Jalla  tidak memiliki tanggungan hak yang wajib Dia tunaikan terhadap makhluk-Nya. Tetapi itu semua merupakan karunia dan rahmat-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman. [Ar-Rûm/30:47]

Karena karunia dan rahmat Allâh, maka Allâh tidak menyiksa hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa orang yang bersih dari syirik besar maupun kecil, maka dia akan selamat dari adzab. Adapun ancaman bagi para pelaku maksiat dan orang-orang fasik yang tidak menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dengan apa pun, tetapi mereka berbuat dosa selain syirik, seperti zina, minum khamr, ghibah, namimah dan lainnya, maka ini adalah dosa-dosa yang berhak mendapatkan adzab. Tetapi dia di atas kehendak Allâh, jika Allâh berkehendak maka Allâh akan mengampuninya tanpa mendapat adzab dan memasukkannya ke surga. Dan jika Allâh berkehendak, Dia akan mengadzabnya sesuai kadar dosanya, lalu Allâh mengeluarkan dia (dari Neraka) karena tauhidnya dan memasukkannya ke surga. Bisa jadi Allâh mengeluarkan mereka karena syafa'at yang mereka dapatkan, atau bisa jadi karena rahmat-Nya. Jadi walaupun mereka diadzab, tetap saja tempat kembali mereka adalah surga.[13]

Orang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik maka mereka akan mendapat rasa aman di dunia dan akhirat serta mendapat hidayah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk. [Al-An'âm/6:82]

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا

Janganlah kausampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri (kepada hal ini dan meninggalkan amal shalih).

Maksudnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam khawatir jika orang-orang mendengar hak hamba atas Allâh tersebut, mereka akan menyandarkan diri dari segi pengharapan dan gampang berbuat maksiat, serta mereka akan berkata, "Selama kami bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla , maka maksiat tidak akan membahayakan kami, karena Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya Allâh tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.' Dan Alhamdulillah, kami bukan orang musyrik, kami hanya menyembah Allâh Azza wa Jalla saja." Kemudian mereka mudah terjatuh dalam maksiat dan rasa harap mereka lebih besar dari rasa takut mereka. Inilah hikmah bahwa ilmu harus diletakkan pada tempatnya. Jika dikhawatirkan akan timbul bahaya yang lebih besar dalam penyampaian masalah kepada sebagian orang, maka (lebih baik) disembunyikan dari mereka karena kasih dan sayang kepada mereka agar tidak terjatuh pada hal yang berbahaya.

Hadits ini, akhirnya disampaikan oleh Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu anhu di akhir hayatnya, karena beliau Radhiyallahu anhu takut jatuh dalam perbuatan dosa besar dengan menyembunyikan ilmu.

Maka hendaknya bagi seorang penuntut ilmu, pemberi nasehat, dan pengajar wajib memperhatikan keadaan manusia dan para hadirin, memberikan kepada mereka masalah-masalah yang mereka butuhkan serta tidak menyampaikan masalah asing yang tidak bisa dipahami kecuali oleh orang-orang yang dalam pemahamannya. Ajarilah mereka masalah-masalah permulaan yang mudah dipahami secara bertahap sedikit demi sedikit.[14]

FAIDAH-FAIDAH HADITS

Mengenal hak Allâh Azza wa Jalla yang wajib dilaksanakan oleh para hamba yaitu beribadah kepada Allâh semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun.Orang yang tidak menjauhi kesyirikan (mempersekutukan Allâh dalam ibadah) –walaupun dia beribadah kepada Allâh- maka pada hakikatnya dia tidak melaksanakan ibadah, seperti orang-orang musyrik Quraisy yang mereka beribadah kepada Allâh, mereka thawaf dan shalat, dan lainnya. Akan tetapi tatkala ibadah itu tidak dikerjakan dengan ikhlas dan tidak sesuai syari'at maka perbuatan mereka tidak dinamakan ibadah. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada mereka:

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Dan kamu bukan penyembah apa yang aku ibadahi. [Al-Kâfirûn/109:3]

Yakni, kalian tidak beribadah seperti ibadahku karena ibadah kalian dibangun di atas kesyirikan, maka hal itu bukanlah peribadahan kepada Allâh Azza wa Jalla .[15]

Dalam hadits ini terdapat makna tauhid, yaitu beribadah kepada Allâh semata dan meninggalkan syirik (mempersekutukan Allâh dalam ibadah). Yaitu dengan melaksanakan apa yang Allâh dan Rasul-Nya perintahkan dan menjauhkan apa yang Allâh dan Rasul-Nya larang.Inti dari agama Islam adalah mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan segala macam perbuatan syirik.Dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kewajiban hamba terhadap Allâh yaitu wajib mentauhidkan Allâh dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan asma' dan sifat-Nya.Orang yang bertauhid kepada Allâh dan tidak berbuat syirik, maka dia akan mendapat rasa aman di dunia dan akhirat serta mendapat petunjuk. (Al-An'âm/6:82)Keutamaan tauhid: bahwa orang yang berpegang teguh kepada tauhid maka Allâh akan masukkan dia ke dalam surga dan diharamkan baginya neraka.Syarat ibadah ada dua yaitu ikhlas dan ittiba'.Ketawadhu'an Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mau mengendarai keledai dan membonceng orang lain, berbeda dengan keadaan orang-orang yang sombong.Cara pengajaran bisa dilakukan dengan cara soal-jawab.Orang yang ditanya tentang sesuatu kemudian tidak mengetahui jawabannya maka hendaknya dia mengatakan: Allâhu a'lam (Allâh yang lebih mengetahui), tidak boleh dia berbicara tanpa ilmu.[16]Dianjurkan untuk memberikan kabar gembira kepada sesama Muslim.Bolehnya menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan.Seorang murid hendaknya mempunyai adab yang baik terhadap gurunya.Keutamaan shahabat Mu'âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu .

MARAAJI':

Kutubus sittah.Musnad Ahmad.Fat-hul Bâri Syarh Shahîh al-BukhâAl-Kâfiyah asy-Syâfiyah fil Intishâr lil Firqatin NâjiyahIbnul Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Syaikh 'Ali Hasan al-Halabi.Fat-hul Majîd Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh 'Abdurrahman Alusy Syaikh.I'ânatul Mustafîd bi Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh Shalih al-Fauzan.Al-Mulakhkhash fii Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh Shalih al-Fauzan.Al-Qaulul Mufîd 'ala Kitâbit Tauhîd, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin.Ath-Tharîq Ilal Islam, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, Pustaka At-Taqwa.Prinsip Dasar Islam, Pustaka At-Taqwa.Dan lainnya

_______
Footnote
[1]     Beliau adalah Abu 'Abdirrahman Mu'âdz bin Jabal al-Anshâri al-Khazraji Radhiyallahu anhu, seorang Shahabat yang terkenal, salah seorang Ulama dari kalangan Shahabat. Wafat di Syam karena wabah Tha'un Amwas pada tahun 18 H

[2]     Fat-hul Bâri (XI/339)

[3]     Al-Mulakhkhash fii Syarh Kitâbit Tauhîd, hlm. 22.

[4]     Atsar shahih: Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/63) dan al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqîh wal Mutafaqqih, II/368, no. 1119

[5]     Atsar shahih: Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqîh wal Mutafaqqih (II/370, no. 1122), diriwayatkan juga dari jalan lain oleh Ibnu 'Abdil Barr dalam Jâmi' Bayânil 'Ilmi wa Fadhlihi (II/838, no. 1573) dan Ibnu Abi Hatim dalam Muqaddimah al-Jarh wat Ta'dîl, hlm. 18.

[6]Al-'Ubûdiyyah, hlm. 34 dan 152.

[7]Al-'Ubûdiyyah, hlm. 23.

[8]     Al-Kâfiyah asy-Syâfiyah fil Intishâr lil Firqatin Nâjiyahfashl 11, hlm. 70 no. 514-516, tahqiq Syaikh 'Ali Hasan al-Halabi.

[9]     I'ânatul Mustafîd, I/42-46, dengan ringkas, Fat-hul Majîd, dan al-'Ubûdiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[10]    Shahih: HR. Muslim, no. 1718 (18)) dan Ahmad, VI/146; 180; 256, dari hadits 'Aisyah Radhiyallahu anhuma

[11]    Lihat Al-'Ubûdiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hlm. 221-222, tahqiq Syaikh 'Ali Hasan 'Ali 'Abdul Hamid.

[12]    Dinukil dari kitab ath-Tharîq ilal Islâm, hlm. 76-77, cet. 2, Daar Ibnu Khuzaimah, th. 1427 H, oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.

[13]    I'ânatul Mustafîd, I/47-48, dengan ringkas.

[14]    I'ânatul Mustafîd, I/49-51, dengan ringkasdan sedikit tambahan.

[15]    Lihat al-Qaulul Mufiid, I/49-50.

[16]    Lihat al-Jadîd, hlm. 33