Ada apa dengan Senyum dan Bensin Murni.

SESUATU KARIR HUKUM ISLAM
Hayo apa hubungan senyum dengan bensin? Gak usah pusing-pusing mikirin, deh! Yang jelas, setiap yang senyum butuh bensin kan? Dan Alhamdulillah, kita masih bisa senyum, walaupun bensin naik harganya. Ya nggak?

Bensin murni memang sangat dibutuhkan manusia zaman sekarang. Bensin murni pun -alhamdulillah- mudah dibuat, namun begitu pulakah halnya dengan "senyum murni"? Mudahkah ditunjukkan?

Senyum murni seringkali lebih sulit didapatkan daripada bensin murni, padahal dalam banyak keadaan senyum murni lebih dibutuhkan daripada bensin murni.

Banyak orang yang murah senyum, namun murnikah senyumannya?

Senyuman di dunia ini macam-macam, ada senyuman abang becak, penjual jamu, dan tukang parkir ke pelanggannya masing-masing. Ada pula senyuman guru, dosen, dan ustadz ke murid-murid mereka. Presiden pun dengan para menterinya sering nampak melemparkan senyuman di hadapan publik dan sorotan kamera.

Customer Service Officer (CSO) yang baik harus murah senyum, ramah, sopan, menarik, cepat tanggap, pandai bicara, menyenangkan, serta pintar memikat dan mengambil hati para pelanggannya, sehingga mereka merasa nyaman, betah, dan tidak bosan mengunjungi kantor kerjanya serta tidak segan mengemukakan masalah yang dihadapinya kepada sang CSO tersebut agar dibantu mendapatkan solusinya.

Namun, bagaimanakah jika kita -apapun profesinya- abang becak, tukang parkir sampai CSO, dan presiden sekalipun masuk ke dalam rumah kita masing-masing? Bertemu dengan anak, istri, atau suami dan orang tua kita? Harus berjam-jam bermu'amalah (interaksi) dengan keluarga kita? Ketika 'jam rumah' kita melebihi lamanya 'jam kantor' kita?

Ketika itu senyuman kita tidak lagi dihargai dengan duit, tidak lagi disorot kamera, tidak pula mempengaruhi kelarisan dagangan kita, serta tidak mempengaruhi promosi jabatan kita? Akankah ketika di dalam rumah senyuman kita masih bisa banyak mengembang sedap dipandang?

Senyum murni simbol akhlak yang indah

Senyum yang murni dari "kotoran"nya, murni dari interest harta, bukan karena sungkan atau perasaan gak enak kepada atasan dan bukan juga karena sekedar tuntutan profesi memang mahal harganya! Senyuman yang benar-benar murni lillahi Ta'ala ditunjukkan khususnya kepada anak, istri, dan orangtua. Dari rumahlah nampak 'keaslian' sebuah senyuman tidak jarang senyuman itu diiringi akhlak-akhlak indah yang lainnya.

Dari persaksian sang keluargalah seseorang lebih mudah diketahui akhlak aslinya ketimbang dari kesaksian konsumen atau customernya! Dari persaksian anak istrilah seorang suami lebih mudah dikenal karakternya. Dari kesaksian ibu kandungnyalah karakter seorang anak biasanya lebih valid diketahui.

Kaidah mengetahui akhlak diri kita

Kaidah tersebut adalah :

أن حقيقة المرأ تعرف في بيته أكثر منه خارجه

"Bahwa hakikat (akhlaq) seseorang lebih banyak diketahui di dalam rumahnya daripada di luar rumahnya".

Dalil Kaidah :

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

خيركم خيركم لأهله، و أنا خيركم لأهلي

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya dan aku adalah orang yang terbaik akhlaknya terhadap istriku" (HR. At-Tirmidzi 3895 dan Ibnu Majah 1977 dari Ibnu Abbas dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 285).
Lafadz lainnya :

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا وخياركم خياركم لنسائهم خلقا

"Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah orang yang terbaik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istri mereka" (HR. At-Tirmidzi 1162 dan Ibnu Majah 1978, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 284).

Penjelasan :

Hadits yang agung ini menjadi dasar kaidah di atas "bahwa hakikat (akhlaq) seseorang lebih banyak diketahui di dalam rumahnya daripada di luar rumahnya" karena:

Dalam hadits ini disebutkan bahwa orang yang terbaik adalah orang yang  paling baik akhlaknya terhadap orang yang terdekatnya, yaitu istrinya, padahal istri adalah wanita, makhluk yang lemah dari beberapa sisi, sehingga sebenarnya hal itu lebih memudahkan bagi sang suami untuk bertindak sewenang-wenang karena merasa menjadi kepala keluarga dan merasa lebih kuat dan lebih kuasa dari istrinya. Maka ketika sang suami sanggup tetap sabar berakhlak yang baik terhadap istrinya atau orang terdekat dari anggota rumah yang lainnya (misalnya anak dan orangtua), maka itu pertanda bahwa akhlak yang baik itulah akhlak aslinya. Itulah hakikat karakter aslinya.

Sebab yang kedua, karena pada umumnya kebanyakan manusia menghabiskan waktu terbanyak dalam berinteraksi di dalam rumahnya. Adapun di luar rumahnya seseorang berinteraksi dengan teman kantornya sebatas jam kantor saja, berinteraksi dengan dosen dan teman kuliahnya sebatas jam kuliah saja, namun seseorang berinteraksi dengan keluarganya belasan jam lamanya dalam setiap harinya, maka ketika seorang suami sanggup tetap sabar berakhlak yang baik terhadap istri, anak atau orangtuanya dalam waktu yang lama, ini menandakan bahwa akhlak yang baik itulah akhlak aslinya. Itulah hakikat karakter aslinya.

Faidah :

Alasan status berpredikat "terbaik" di sini sebagaimana dikatakan oleh As-Sindi rahimahullah dalam kitab Hasyiahnya :

و يحتمل أن المتصف به ،يوفق لسائر الصالحات ،حتى يصير خيّرا على الإطلاق، و الله أعلم

"Mengandung kemungkinan makna bahwa orang yang berakhlak terbaik terhadap istrinya itu mendapatkan taufik Allah sehingga bisa melakukan amal shalih yang lainnya (selain berakhlak yang baik kepada istrinya), hingga pada akhirnya menjadi berpredikat terbaik secara muthlak, wallahu a'lam".

Berakhlak baik kepada keluarga memang penyebab datangnya taufik Allah untuk menjadi yang terbaik karena keluarga adalah orang-orang yang paling berhak mendapatkan keramahtamahan, kebaikan akhlak, perbuatan baik, dan penjagaan dari keburukan, sehingga berakhlak baik kepada mereka adalah perkara yang sangat dicintai oleh Allah, sedangkan Allah adalah As-Syakuur (Maha Mensyukuri amal hamba-Nya). Amal shalih yang sedikit dibalas dengan balasan yang berlipat ganda, sehingga akhlak baik seorang hamba terhadap keluarganya berpeluang diganjar dengan dimudahkan beramal shalih yang lainnya, hingga pada akhirnya menjadi berpredikat terbaik secara mutlak .

Adapun orang yang berlaku sebaliknya, buruk kepada keluarga, namun justru kepada orang lain sangat banyak kebaikannya, maka tanpa diragukan lagi orang ini -sebagaimana dijelaskan Asy-Syaukani rahimahullah- tercegah mendapatkan taufik Allah untuk menjadi orang yang berpredikat terbaik.

Renungan

Berapa banyak sepasang pemuda pemudi yang melakukan pacaran yang haram, ketika pacaran yang hanya beberapa jam saja di luar rumah mereka tampakkan demikian perhatian dan kasihsayangnya terhadap pasangannya, demikian besarnya kerelaan berkorban untuk pasangannya, namun begitu sah menjadi pasangan suami istri, nampaklah akhlak aslinya, mereka berdua atau salah satunya tidak mampu menyembunyikan akhlak aslinya selama puluhan tahun berumahtangga!  Akhlaknya tersingkap dari dalam rumahnya!

Berapa banyak seseorang yang demikian ramahnya kepada teman-teman kuliahnya -apalagi lawan jenis yang dia sukainya-, namun saat bersama bapak/ibunya berubah menjadi sosok anak yang berperangai kasar, beda jauh dengan akhlaknya kepada teman-teman kuliahnya! Akhlaknya tersingkap dari dalam rumahnya!

Berapa banyak orang yang nampak pendiam, tertutup & pemalu di tengah masyarakatnya, jauh dari ghibah, jauh dari mencela dan berakhlak buruk kepada masyarakatnya, namun jika masuk rumahnya muncullah sifat aslinya yang keras kepada keluarganya. Rahasianya karena dia merasa tidak memiliki 'kekuatan' dan minder menghadapi masyarakatnya! Akhlaknya tersingkap dari dalam rumahnya!

Kalau orang yang tersingkap karakter aslinya orang biasa yang tidak punya jabatan, bisa jadi dampak buruknya tidak sebesar kalau yang tersingkap akhlak buruknya adalah orang-orang yang memiliki status sosial dan jabatan tinggi di masyarakatnya!

Sesungguhnya orang yang tidak baik dalam memimpin keluarganya dan buruk akhlaknya kepada mereka, bagaimana dia bisa baik memimpin dengan baik masyarakatnya?

Inilah rahasia besar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

خيركم خيركم لأهله، و أنا خيركم لأهلي

"sebaik-baik kalian adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku"

Wallahu a'lam. terus pantau update terbaru Saklar Jiwa. semoga mendatangkan hikmah untuk kita semua dan mengantarkan kita semua menjadi orang yang shalih. amiin ya robb.

[Diolah dari kitab Al-Mau'idhotul Hasanah fil Akhlaaqil Hasanah, Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani]




Tahu gak sih apa itu Khosyah dan urgensinya.

SESUATU KARIR HUKUM ISLAM
Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki.

Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Sudah baca? Sudah renungkan?

Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.

Kenapa bisa demikian?
Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.

Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga:
‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum).

‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum).

‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).

Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah.
Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah.

Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).

Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.

Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.


* Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan

Oleh : M Tausikal



Jadikan 7 poin penting ini sebagai Sumber Rezekimu

SESUATU KARIR HUKUM ISLAM

Sesungguhnya setiap manusia yang lahir ke dunia ini sudah Allah siapkan rezekinya masing-masing. Namun banyak orang yang merasa khawatir jika Allah tidak memberikan rezeki yang cukup untuk kebutuhan hidup dirinya dan keluarga. Padahal keyakinan seperti itu merupakan bentuk penghinaan kepada Allah Yang Maha Pemberi Rezeki.


Memang pada kenyataannya sering kita alami rezeki yang terasa begitu sulit untuk didapatkan, meski telah melakukan berbagai usaha semaksimal mungkin. Ketahuilah bahwa selain berikhtiar, kita pun dianjurkan untuk berdoa dan berdzikir.


Ini 7 Dzikir Yang Bisa Memudahkan Datangnya Rezeki Dari Allah


Lantas apa saja dzikir yang bisa memudahkan datangnya rezeki dari Allah?


1. Mengucapkan "Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah"


Manusia hanyalah berusaha dan berencana sedangkan yang menentukan adalah Allah. Karenanya kita patut sadar bahwa diri lemah dan tidak memiliki kemampuan kecuali atas pertolongan allah. Oleh karena itu perbanyaklah membaca "Laa haula walaa quwwata illa billah".


Dalam hadist riwayat Thabrani disebutkan bahwa barangsiapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan "Laa haula Walaa Quwwata Illa billah".


2. Mengucapkan "Laa Ilaa Illallahul Malikul Haqqul Mubin"


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan kepada umat muslim membaca "Laa ilaa illallahul malikul haqqul mubin" agar aman dari kefakiran dan rasa takut dalam kubur, sebagaimana dalam hadist riwayat Abu Nuaim dan Ad Dailami.


3. Mengucapkan "Subhanallah Wabihamdihi Subhanallahil Adziim"


Dzikir yang bisa memudahkan datangnya rezeki selanjutnya adalah bacaan "Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim". Karena dalam hadist riwayat Al Mustagfiri disebutkan bahwa kalimat tersebut merupakan dzikir para malaikat hingga hari kiamat dan pahalanya akan diberikan kepada manusia yang membacanya.


4. Membaca Al Ikhlas


Bacaan dzikir yang juga bisa menghilangkan kefakiran adalah surat Al Iklas, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist riwayat At Thabrani.


5. Membaca Al Waqiah


Dzikir tak selalu mengucapkan kalimat yang pendek, namun juga berupa surat Al Qur'an. Salah satunya adalah membaca surat Al Waqiah. Disebutkan dalam hadist riwayat Al Baihaqi bahwa orang yang senantiasa membaca surat Al Waqiah setiap malamnya tidak akan ditimpa kesempitan hidup.


6. Memperbanyak Shalawat Kepada Nabi


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan agar umatnya senantiasa mengucapkan shalawat. Selain menjadi salah satu bukti cinta kepada nabi, bershalawat pun bisa mengangkat derajat orang yang membacanya, sebagaimana hadist riwayat Bukhari.


7. Mendawamkan Istighfar


Dzikir terakhir yang harus didawamkan adalah membaca istighfar. Karena dalam hadist riwayat Ahmad dan Abu Dawud disebutkan bahwa Allah akan mengeluarkan orang yang membaca Istighfar dari kesusahan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.


Semoga Rezeki Mengaril beserta keberkahannya untuk kita semua.

Salam saklar Jiwa.




Wajib Berbuat Baik Meski Orangtua sudah meninggal [Baca ini]

SESUATU KARIR HUKUM ISLAM

Bagi seorang anak, orangtuanya menjadi ladang untuk menuju surga maupun neraka. Karena siapa yang berbuat baik kepada orangtuanya, tentu ia akan mendapati surga Allah yang seluas langit dan bumi. Namun siapa yang berbuat durhaka terhadap orangtua, maka siksa Allah akan menjadi bagiannya di akhirat.


Perlu diketahui bahwa berbuat baik kepada orangtua tidak terbatas apakah mereka masih hidup atau telah meninggal. Bahkan sejumlah riwayat menyebutkan bahwa berbuat baik atau berbakti kepada orangtua jauh lebih sulit dilakukan ketika mereka telah meninggal dibandingkan saat masih hidup.


Orangtua Sudah Meninggal Dunia? Hindarilah Perbuatan Ini Jika Tak Ingin Mereka Bersedih Di Alam Kubur


Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk bakti ketika orangtua telah meninggal adalah seperti mendoakan mereka, bergaul dengan kerabat orangtua, beramal shaleh dan yang lainnya.


Namun disamping itu, ada juga larangan yang hendaknya dihindari oleh seorang anak saat orangtuanya telah meninggal dunia. Ini karena jika seorang anak melakukan hal tersebut, maka orangtua akan merasakan kesedihan dan rasa malu yang mendalam di akhirat atau di alam kubur sana.


Hal tersebut tertulis jelas dalam Al Wa'dul Haq yang dikutip oleh Dr Umar Abdul Kafi dimana Rawabah bin Abdullah menuturkan, "Setiap kali melakukan kebaikan, aku melihat ayahku tersenyum di dalam mimpiku. Beliau berkata, 'Semoga Allah Ta'ala memuliakanmu dengan kebaikan. Engkau telah memuliakan aku di antara para penghuni kubur.'"


Beberapa saat kemudian Rawabah absen dalam kebaikan dan justru lebih banyak melakukan perbuatan yang tidak berpahala dan perbuatan dosa. Rawabah pun melihat kondisi ayahnya dalam keadaan yang berbeda.


"Tatkala aku terjerumus dalam perbuatan buruk," tutur Rawahah bin 'Abdullah, "aku melihat ayahku menggigit jari-jemarinya. Beliau bertutur, 'Engkau telah membuatku sedih, anakku. Jangan kau ulangi lagi. Karena aku tidak berani bertemu dengan para penghuni kubur lainyya (lantaran rasa malu).'"



    Karenanya jika tidak ingin mempermalukan orangtua di alam kubur sana, berbuatlah hal yang baik dan mendatangkan pahala serta hindarilah perbuatan yang sia-sia ataupun dosa. 


    Wallahu A'lam

    Salam Saklar Jiwa




    Mengenal beberapa Istilah Tidur [Muslim harus tahu]

    SESUATU KARIR HUKUM ISLAM

    Ada 3 istilah waktu tidur yang ada dalam Islam, yaitu Qailulah, Hailulah dan Ailulah. Sudah semestinya bagi setiap muslim untuk mengetahui arti dari istilah 3 waktu tidur ini.


    Istilah Waktu Tidur Qailulah, Hailulah dan Ailulah yang Patut Diketahui Setiap Muslim



    Lalu apa maksud dari istilah 3 waktu tidur diatas, Yuk kta simak ulasannya.


    1.  Hailulah


    Hailulah ialah tidur setelah sholat Subuh. Tidur di waktu ini sangat dilarang karena dapat menghalangi kita dari rezeki yang Allah turunkan pada pagi har, Kecuali dalam keadaan darurat.


    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila kamu telah selesai shalat Subuh janganlah kamu tidur tanpa mencari rezeki." (HR. Thabrani)



    2.  Qailulah


    Qailulah secara etimologi artinya tidur pada pertengahan siang. Karena artinya 'tidur siang', sebagian besar orang menyangka qailulah merupakan "tidur siang" dalam arti sebenarnya, yaitu benar-benar tidur.  Namun sebenarnya, qailulah tidak harus tidur, istirahat pada siang hari juga sudah termasuk qailulah.


    Imam Ash-Shan'ani rahimahullah berkata, yang artinya, "Qailulah adalah istirahat pada pertengahan siang walaupun tidak tidur."


    Maka, qailulah artinya adalah tidur sejenak atau istirahat yang dilaksanakan pada siang hari. Waktunya sekitar 20-30 menit sebelum dhuhur.


    Al-Munawi rahimahullah berkata, "Qailulah adalah tidur di pertengahan siang ketika zawal (condongnya matahari ke arah barat) atau mendekati waktu zawal sebelum atau sesudahnya."


    Dalam sebuah riwayat, pada musim dingin Rasulullah tidur setelah sholat dzuhur, sedangkan ketika musim panas Rasulullah tidur sebelum dhuhur.


    "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan" (Ar-Ruum :23)


    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang."


    Demikian juga perbuatan para sahabat, "Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas'ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas'ud mengatakan, "Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang), Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan." Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit."


    Dalam riwayat yang lain, "Dulunya Umar jika melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, "Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan."


    Penelitian kesehatan yang dilakukan abad modern ini membuktikan bahwa Qailulah bisa mengobati insomnia, menurunkan stres, meningkatkan daya ingat, meningkatkan produktivitas, dan mencegah serangan jantung.


    3.  Ailulah


    Ailulah ialah tidur yang dilakukan setelah melaksanakan shalat Ashar. Tidur waktu ini sangat dilarang kecuali dalam keadaan mendesak, Tidur Ailulah bisa memicu berbagai penyakit. Di antaranya sesak napas, gelisah, dan murung. Selain itu, tidur setelah ashar juga menyebabkan jam biologis kita terganggu serta memungkinkan terlewatnya waktu shalat maghrib.


    Semoga bermanfaat

    Salam Saklar Jiwa - adalah merupakan suatu kehormatan jika anda berkenan berbagi melalui media sosial anda. Hidup cuma sekali, jika berkesempatan berbagi kebaikan, emm  kenapa tidak.




    Sebelum memutuskan "Pacaran" sebaiknya [Baca ini]

    SESUATU KARIR HUKUM ISLAM
    Bukan hal yang mudah untuk menjalin sebuah hubungan menuju pernikahan. Banyak diantara kita yang memilih jalan pacaran karena dianggap menjadi hal yang umum di masyarakat dan memperturutkan hawa nafsu. Namun ada juga yang memilih untuk mencapai tujuan pernikahan lewat jalan taaruf dan tanpa pacaran.

    Taaruf sendiri merupakan proses perkenalan yang telah ada di dalam ajaran Islam dimana hal tersebut dilakukan oleh orang dewasa yang sudah siap menjalin hubungan yang serius. Sehingga tidak ada kata taaruf untuk mereka yang masih remaja dan belum siap menikah.

    Lantas apa saja kebaikan taaruf tersebut? Berikut adalah 8 kebaikan yang perlu diketahui.

    1. Perjalanan Cinta Menjadi Lebih Terarah

    Pelaksanaan taaruf biasanya melibatkan orangtua, guru ngaji atau orang terdekat. Ketika kita bersedia untuk melakukan taaruf, maka calon pasangan pun akan sangat mengetahui tujuan akhir dari proses tersebut.

    Dengan demikian tidak perlu ada kekhawatiran ketika mendapatkan pertanyaan “Mau dibawa kemana hubungan kita?”

    2. Terhindar Dari PHP

    Dalam proses taaruf, ketegasan sangat diperlukan sehingga bisa menghindarkan diri dari PHP. Ketika sudah berkenalan hingga berkunjung antar keluarga, mantapkanlah hati apakah akan meneruskan proses tersebut atau tidak. Jadi tidak ada harapan semu yang hanya akan membuat hati menjadi sakit.

    3. Taaruf Yang Gagal Tidak Akan Membuat Hati Hancur

    Karena proses taaruf tidak berlangsung selama bertahun-tahun, maka ketika gagal menuju pernikahan, hal tersebut tidak akan membuat hati menjadi hancur. Sehingga kita pun tidak akan terus merana lantaran mengalami kegagalan.

    4. Proses Lebih Jujur Dan Apa Adanya

    Beda dengan pacaran yang berusaha menutupi kekurangan dan menunjukkan sisi baik yang kadang palsu, taaruf lebih jujur dan apa adanya. Terlebih lagi proses taaruf melibatkan beberapa pihak seperti keluarga atau teman terdekat yang sudah pasti mengetahui sifat asli tiap calon pasangan.

    5. Bisa Menentukan Dan Menulis Kriteria Jodoh Yang Diinginkan

    Beberapa proses menuju taaruf salah satunya adalah melalui proposal. Di sana kita bisa menulis kriteria pasangan yang diharapkan. Sehingga sebelum bertatap muka bisa terlebih dahulu mengenal sifat atau kebiasaan calon pasangan tersebut apakah cocok atau tidak.

    6. Taaruf Dilakukan Secara Rahasia

    Dalam prosesnya, taaruf hanya melibatkan beberapa pihak yang dekat saja seperti keluarga. Jadi ketika proses tersebut gagal, dunia luar tidak akan tahu hal tersebut sehingga tidak dicap sebagai playboy atau playgirl. Terlebih keluarga akan berusaha menutupi aib atau rahasia kita.

    7. Lebih Mudah Move On

    Proses taaruf yang terbilang singkat yakni paling lama setengah tahun menjadikan kita yang gagal prosesnya lebih mudah untuk move on. Hal ini karena belum banyak yang membekas di hati dan belum banyak yang dikorbankan untuk merajut cinta sejati.

    8. Taaruf Membuat Kita Percaya Allah Memberi Jodoh Terbaik Dan Perjalanan Cinta Sebenarnya Dimulai

    Tidak menjalani pacaran dan mendapatkan jodoh lewat taaruf, maka pernikahan akan minim dengan drama dan lebih banyak dijalani berdasarkan komitmen. Beberapa diantaranya komitmen untuk saling mencintai karena Allah dan bertanggung jawab dengan pilihan yang telah diambil.

    Wallahu A’lam



    Berbulan Madu dengan Sang Bidadari

    SESUATU KARIR HUKUM ISLAM

    Bismillahirrahmanirrahim...

    Bulan madu Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

    Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup. "Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja", sapa Rasulullah SAW.

    "Allah bersamaku, wahai Rasulullah", jawab Zahid.

    "Maksudku, mengapa selama ini engkau masih lajang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?", tanya beliau lagi.

    Zahid menjawab, "Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku..?".

    "Mudah saja kalau kau mau..!" kata Rasulullah menimpali.

    Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

    "Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia", kata Zahid.

    Said menjawab, "Ini adalah kehormatan buatku".

    Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga. Itulah yang dinamakan "sekufu" (sederajad).

    Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah..?"

    Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihatku berbohong..?"

    Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, "Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini..? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk..?"

    "Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya", kata Said kepada anaknya.

    Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya. "Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah..!" jawab Zulfah merasa terhina.

    Said pun berkata kepada Zahid, "Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu di tolak".

    Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, "Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW..?"

    Said menjawab, "Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah."

    Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, "Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah : 'Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.' (An-Nur : 51)."

    Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

    "Bagaimana Zahid..?" tanya Rasulullah.

    "Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah," jawab Zahid.

    "Sudah ada persiapan..?" tanya Rasulullah lagi.

    Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa."

    Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

    Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya. Zahid bertanya, "Ada apa ini..?"

    Shahabat menjawab, "Zahid.., hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya..?"

    Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, "Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik."

    "Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan pergi juga..?" kata para shahabat menasehati.

    "Tidak mungkin aku berdiam diri..!" jawab Zahid tegas.

    Lalu Zahid menyitir ayat, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah : 24).

    Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur. Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah." Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 - 170.

    "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati."

    "Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."

    Para Shahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah..?

    Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, "Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak." Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak.


    Dikutip dari buku "Ayat-Ayat Pedang - Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang" Oleh : Layla TM



    Sudahkah kita mencintai nabi sebagaimana mereka? [Baca ini]

    SESUATU KARIR HUKUM ISLAM

    Cinta Nabi. Kalimat sederhana yang begitu dalam maknanya. Dua kata yang bisa membuat orang menebusnya dengan dunia dan seisinya. Karena memang demikianlah hakikinya. Nabi Muhammad ﷺ wajib lebih dicintai dari orang tua, istri, anak, dan siapapun juga.

    Flashdisk Yufid.TV
    Namun, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang bebas ekspresi. Tetap ada aturan yang indah dan elegan. Tidak boleh berlebihan dan juga menyepelekan. Tidak boleh mengada-ada. Karena beliau begitu mulia untuk dipuja dengan sesuatu yang bukan dari ajarannya.

    Allah ﷻ berfirman,

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

    “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 69).

    Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini turun terkait dengan kisah Tsauban bin Bujdad radhiallahu ‘anhu bekas budak Rasulullah ﷺ. Ia sangat mencintai Nabi ﷺ. Suatu hari ia menemui Nabi ﷺ, rona wajahnya berbeda. Menyiratkan kekhawatiran dan rasa sedih yang bergemuruh.

    Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apa yang membuat raut wajahmu berbeda (dari biasa)’?

    ‘Aku tidak sedang sakit atau kurang enak badan. Aku hanya berpikir, jika tak melihatmu, aku sangat takut berpisah denganmu. Perasaan itu tetap ada, hingga aku melihatmu. Kemudian aku teringat akhirat. Aku takut kalau aku tak berjumpa denganmu. Karena engkau di kedudukan tinggi bersama para nabi. Dan aku, seandainya masuk surga, aku berada di tingkatan yang lebih rendah darimu. Seandainya aku tidak masuk surga, maka aku takkan melihatmu selamanya’, kata Tsauban radhiallahu ‘anhu.

    Kemudian Allah ﷻ menurunkan ayat ini.

    Mereka Yang Mencintai Nabi

    Suatu hari, Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, sedang berkebun di perkebunannya. Kemudian anaknya datang, mengabarkan kalau Nabi ﷺ telah wafat. Ia berucap,

    اللهم أذهب بصري تى لا أرى بعد حبيبي محمدًا أحدًا

    “Ya Allah, hilangkanlah penglihatanku. Sehingga aku tidak melihat seorang pun setelah kekasihku, Muhammad.” Ia katupkan dua tapak tangannya ke wajah. Dan Allah ﷻ mengabulkan doanya (Syarah az-Zarqani ‘ala al-Mawahib ad-Diniyah bi al-Manhi al-Muhammadiyah, Juz: 8 Hal: 84).

    Tak ada pemandangan yang lebih indah bagi para sahabat melebihi memandang wajah Rasulullah ﷺ. Abdullah bin Zaid ingin, pandangan terakhirnya adalah wajah Nabi. Saat memejamkan mata, ia tak ingin ada bayangan lain di benaknya. Ia hanya ingin muncul wajah yang mulia itu.

    Bilal radhillahu ‘anhu, seorang sahabat dari Habasyah. Muadzin Rasulullah ﷺ. Cintanya pada sang Nabi terus bertumbuh hingga maut datang padanya. Sadar akan kehilangan Bilal, keluarganya bersedih dan mengatakan, “Betapa besar musibah”!

    Bilal menanggapi, “Betapa bahagia! Esok aku berjumpa dengan kekasih; Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” (Rajulun Yatazawwaju al-Mar-ata walahu Ghairuha, No: 285)

    Cinta sahabat Nabi telah membuat kita malu. Cinta mereka begitu tulus. Tak jarang cinta kita hanya mengaku-ngaku.

    Al-Hawari, Abdullah bin Zubair. Apabila ada yang menyebut Nabi ﷺ di sisi Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu, ia menangis tersedu, hingga matanya tak mampu lagi meneteskan rindu dan kesedihan (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 402).

    Demikian juga dengan sahabiyat (sahabat wanita). Cinta mereka kepada Rasululllah ﷺ tak kalah hebatnya dari sahabat laki-laki. Ada seorang wanita Anshar; ayah, suami, saudara laki-lakinya gugur di medan Perang Uhud. Bayangkan! Bagaimana perasaan seorang wanita kehilangan ayah, tempat ia mengadu. Kehilangan suami, tulang punggung keluarga dan tempat berbagi. Dan saudara laki-laki yang melindungi. Ditambah, ketiganya pergi secara bersamaan. Alangkah sedih keadaannya.

    Mendengar tiga orang kerabatnya gugur, sahabiyah ini bertanya, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah ﷺ”?

    Orang-orang menjawab, “Beliau dalam keadaan baik.”

    Wanita Anshar itu memuji Allah dan mengatakan, “Izinkan aku melihat beliau.” Saat melihatnya ia berucap,

    كل مصيبة بعدك جلل يا رسول الله

    “Semua musibah (selain yang menimpamu) adalah ringan, wahai Rasullah.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz: 3 Hal: 43).

    Maksudnya apabila musibah itu menimpamu; kematian dll. Itulah musibah yang berat.

    Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Taka da seorang pun yang lebih aku cintai melebih Rasulullah. Dan tak ada seorang pun yang lebih mulia bagiku selain dirinya. Aku tidak pernah menyorotkan penuh pandanganku padanya, karena begitu menghormatinya. Sampai-sampai jika aku ditanya, tentang perawakannya, aku tak mampu menggambarkannya. Karena mataku tak pernah memandangnya dengan pandangan utuh.” (Riwayat Muslim dalam Kitab al-Iman No: 121).

    Sebagaimana kita saksikan, seorang pengawal kerajaan menundukkan wajahnya ketika berbicara dengan sang raja. Karena menghormati dan memuliakan rajanya. Amr bin al-Ash lebih-lebih lagi dalam memuliakan dan mengagungkan Nabi ﷺ.

    Adakah pengagungan yang lebih hebat dan lebih luar biasa. Selain pengagungan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ terhadap beliau?

    Cinta Nabi Harus Mencintai Sahabatnya

    Mencintai Nabi ﷺ berkonsekuensi mencintai sahabatnya. Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, “Ada dua jalan, siapa yang berada di atasnya, ia selamat. Ash-shidqu (jujur) dan mencintai sahabat Muhammad ﷺ.” (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 413).

    Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah (tokoh tabi’in) mengatakan, “Siapa yang mencintai Abu Bakar, ia telah menegakkan agama. Siapa yang mencintai Umar, ia telah memperjelas tujuan. Siapa yang mencintai Utsman, ia telah meminta penerangan dengan cahaya Allah. Dan siapa yang mencintai Ali, ia telah mengambil tali yang kokoh. Siapa bagus sikapnya terhadap sahabat Muhammad ﷺ, ia telah berlepas diri dari kemunafikan. Siapa yang merendahkan salah seorang dari mereka, ia adalah seorang ahli bid’ah yang menyelisihi Sunnah dan salaf ash-shaleh. Aku khawatir amalnya tidak naik ke langit (tidak diterima), hingga ia mencintai semua sahabat. Dan hatinya bersih terhadap mereka.” (ats-Tiqat oleh Ibnu Hibban No:680).

    Mencintai Rasulullah ﷺ adalah kedudukan mulia. Umat Islam berlomba-lomba mencintai beliau. Kecintaan kepada beliau menguatkan hati. Gizi bagi ruh. Dan penyejuk jiwa. Mencintai beliau adalah cahaya. Tak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.

    Kita melihat orang-orang yang cinta nabi, mata mereka berbinar bahagia. Jiwa mereka syahdu. Hati mereka tenang. Mereka menikmati rasa cinta itu. mereka menjadi mulia di dunia dan berbahagia di akhirat. Mereka tahu bagaimana rasa yang namanya bahagia itu. Keadaan sebaliknya bagi mereka yang tidak mencintai Nabi. Mereka merasakan kegundahan. Jiwa yang hampa. Perasaan yang sakit. Dan rugi.

    Dalam Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya adalah sekadar mana seseorang mengikuti Rasul. Setingkat itu pula kadar kemuliaan dan pertolongan. Sebatas itu pula kualitas hidayah, kemenangan, dan kesuksesan. Allah ﷻ memberi hubungan sebab-akibat, kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan mengikuti Nabi. Dia menjadikan kesengsaraan di dunia dan akhirat bagi yang menyelisihi sang Nabi. Mengikutinya adalah petunjuk, keamanan, kemenangan, kemuliaan, kecukupan, kenikmatan. Mengikutinya adalah kekuasaan, teguh di atasnya, kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Menyelisihinya adalah kehinaan, ketakutan, kesesatan, kesengsaraan di dunia dan akhirat.”

    Renungan

    Setelah mengetahui bagaimana hebatnya cinta dan pengagungan para sahabat terhadap Rasulullah ﷺ, tentunya kita semakin bersemangat untuk meneladani cara mereka mencintai Nabi. Cara yang tidak berlebihan dan tidak menyepelekan. Cara mereka mencintai diridhai oleh Nabi.

    Mereka menangis, tidak berani menyorotkan pandangan, bahagia dengan keselamatan beliau, dll. tapi mereka tak pernah melakukan perayaan maulid Nabi yang dianggap bukti cinta padanya. Mereka tak pernah merayakan suatu ‘amalan’ di hari kelahiran sang tauladan yang katanya adalah pengagungan.

    Apakah kita yang belajar dari mereka cara mencintai Nabi ataukah sebaliknya?

    Demikianlah kita anak-anak akhir zaman. Sering menyebut cinta, tapi kita tak tahu apa artinya mencintai. Akhirnya, semakin marak perayaan, umat tak kunjung juga mengkaji hadits-hadits Nabi. Lihatlah sekitar kita sebagai renungan dan bukti.



    [Baca ini] Hasil Riset tentang Keajaiban Menangis

    SESUATU KARIR HUKUM ISLAM


    Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

    Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ‘‘BARBEDA’’ dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

    Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya.

    Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun.

    Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang² yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

    Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas²nya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis.

    Orang² yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

    Orang² yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu akan memadamkan api neraka.

    Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW; ‘‘Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT...!!!’’ (HR. Muslim)

    Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

    Tuhan memuji orang menangis; ‘‘Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk...!!!’’ (QS Al-Isra' [17]:109).

    Nabi Muhammad SAW bersabda; ‘‘Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa²mu...!!!’’ (HR. Muslim)

    Ciri² orang yang beruntung ialah;

    1. Ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang² di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan.

    2. Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang² di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan.



    Khazanah Umur dan Waktu Pesan Imam Ghazali

    SESUATU KARIR HUKUM ISLAM
    Dalam banyak riwayat hadits dituliskan bahwa usia umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tidak lama. Berkisar sekitar 60 - 70 tahun.

    Nasehat Imam Ghazali Tentang Umur dan Waktu


    Itu pun sudah tua: rambut mulai memutih, gigi mulai habis, pendengaran perlahan berkurang, dan tenaga mulai melemah.

    Berbeda dengan usia umat Nabi sebelumnya yang panjang. Karena sedikitnya tempo usia umat Nabi Muhammad itu, maka harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memuliakan diri dengan ilmu dan ibadah.

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad Shallallhu ‘Alaihi Wassallam berkata: “Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Karenanya jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka waktu akan terbuang sia-sia. Dan, waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Dia akan pergi selamanya dengan segala kenangannya: baik kenangan yang penuh penyesalan atau kebahagiaan. Manusia harus memanfaatkan waktu. Hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik yang akan jadi mulia.

    Kalau mau jujur, sebenarnya kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat daripada yang bermanfaat. Kita lebih banyak bermain daripada belajar. Kita lebih banyak bersendagurau daripada berfikir. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk duniawi daripada ukhrowi. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat dosa ketimbang memupuk pahala. Nauzubillah. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kealpaan kita. Aamiin.

    Nasehat Imam Ghazali

    Ada nasihat penting yang disampaikan Imam Al Ghazali terkait waktu. Kita kebanyakan menghabiskan waktu hanya untuk tidur ketimbang untuk hal-hal yang bermanfaat dan ibadah. Coba bayangkan, jika rata-rata usia umat manusia di jaman Nabi Muhammad ini sekitar 60 tahun dan waktu yang digunakan untuk tidur sekitar 8 jam dalam sehari.

    Seperti diketahui, kebanyakan orang—terutama di Indonesia—tidur mulai pada pukul 20.00 malam dan bangun sekitar pukul 05.00 pagi.

    Iya kalau bangun tidur jam 05.00 pagi. Pasalnya, tidak sedikit di antara kita yang masih suka bangun tidur di atas jam 05.00 hingga ada yang telat dan tertinggal shalat shubuh.Nauzubillah!

    Nah, kalau misalnya, rata-rata tidur 8 jam sehari itu dikali dengan masa usia rata-rata manusia yang mencapai 60 tahun, maka setidaknya kita menghabiskan masa 20 tahun untuk hanya tidur. Saya ulangi lagi: kita menghabiskan waktu 20 tahun hanya untuk tidur!
    Sekarang, kita hitung lagi berapa banyak waktu yang kita manfaatkan untuk ibadah. Jika 20 tahun kita manfaatkan untuk tidur, maka sisa 40 tahun. Coba bayangkan berapa waktu untuk ibadah, berapa lama untuk belajar menuntut ilmu, dan berapa tahun waktu yang dihabiskan untuk main-main dan mencari kehidupan duniawi! Tentu jawabnya berbeda-beda. Tergantung pribadi masing-masing. Sebab, biasanya, manusia punya jadwal hidup (life schedule) masing-masing.

    Bisa dibayangkan jika perhari kita habiskan berapa lama hanya untuk bermain atau sekedar bersendau gurau. Berapa lama waktu dihabiskan untuk membaca al-Quran, berzikir, dan belajar. Padahal, waktu itu terus berjalan dan tidak akan kembali. Waktu juga ibarat pedang tajam yang apabila tidak digunakan untuk memotong sesuatu dengan baik, maka pedang waktu tersebut akan memotong kita bahkan memutilasi kita perlahan-lahan.

    Karenanya, yang membedakan kualitas kemuliaan seseorang adalah dari pemanfaatan waktu. Kalau waktunya habis dengan kerja-kerja intelektual, spiritual, dan kebermanfaatan kolektif maka dia akan menjadi pribadi yang mulia. Karenannya, seseorang akan jadi mulia dengan menghabiskan waktu-waktunya untuk belajar dan senantiasa berzikir pada Allah. Seseorang juga akan jadi mulia dan terhormat bila menghabiskan malam-malam yang gelap gulita itu dengan belajar, dan shalat tahajud.

    Seperti kata pepatah Arab di atas: “Man tholabal ‘ula sahiral layali” (Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan maka seringlah bergadang pada malam hari).

    Bergadang di situ tentunya bukan untuk sesuatu yang semu dan tidak manfaat. Seperti main, menonton film sepanjang malam, melihat pertandingan bola, dan hang out hingga larut malam. Tapi, bergadang di situ adalah dengan melakukan kerja-kerja spiritual dan intelektual: belajar dan beribadah.

    Ada banyak kisah orang sukses yang memanfaatkan waktunya. Dan, hampir semua orang sukses adalah orang yang memanfaatkan waktunya dengan baik.

    Sebaliknya, orang gagal adalah orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Waktu-waktu yang dimanfaatkan orang beriman itu seharusnya seperti yang dilakukan para sahabat dan pejuang jaman Rasulullah. Di mana pada siang hari mereka seperti singa di padang pasir yang berjuang tanpa lelah sedangkan malam harinya dihabiskan dengan beribadah seperti rahib-rahib.

    Orang besar dan sukses adalah mereka yang memanfaatkan waktunya dengan baik. Dia tidak mau ada waktu—semenit saja—yang terbuang tanpa kebaikan dan kemanfaatan.

    Imam Al-Ghazali menasihatkan agar setiap hari kita meluangkan waktu sesaat—misalnya selesai shalat Subuh—untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyârathah).

    “Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat.”

    Al Quran Surat al ‘Ashr 1-3: mengingatkan; “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati dalam supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”*

    Sumber: Hidayatullah.com