Hati atau qalbu manusia mungkin memang sengaja dibuat mudah berbolak-balik; yaitu di satu saat merasa senang, di saat lain merasa susah; suatu kali mau menerima dan suatu kali menolak. Memang hati cenderung tidak dapat konsisten. Namun hal itu bukannya berarti bahwa hati itu selalu jelek. Karena dengan hati atau qalbu inilah manusia dapat berimajinasi merasakan dan mengekspresikan keindahan.
Melalui qalbu ini pulalah kita dapat percaya dan berhubungan dengan Tuhan serta menangkap cahaya petunjuk-Nya. Hal ini berbeda dengan akal. Terangnya akal bersumber dari analisis informasi panca indra yang bersifat fisik material. Karena itu, cahayanya tidak jarang gagal menembus kegelapan; sulit baginya menyingkap yang tersirat dari yang tersurat, bahkan akal itu tidak mampu menembus alam metafisika. Kalau daya akal ini diibaratkan dengan kemampuan berenang, maka pada saat ombak dan gelombang membahana, yang pandai berenang dan yang tidak bisa berenang tidak ada bedanya. Ketika itu yang dibutuhkan keduanya adalah pelampung yang ampuh. Dengan demikian, akal masih mempunyai banyak keterbatasan. Karena itulah manusia tidak cukup bila hanya punya akal saja. Ia juga harus punya hati.
Hati yang terawat baik dapat menangkap cahaya ilahi, yang seringkali mampir secara tiba-tiba, tanpa disertai analisis, bahkan kadang tidak terpikirkan sebelumnya. Kedatangannya bagaikan kilat baik dalam sinar maupun kecepatannya, sehingga manusia tidak dapat menolak kehadirannya, tapi tak juga dapat mengundangnya. Kemampuan meraih cahaya petunjuk-Nya ini tergantung pada kualitas hati masing-masing. Ada yang sedemikian kuatnya sehingga cahaya ilahi yang tertangkap ini tak ubahnya seperti informasi yang didapat oleh indera; ia begitu meyakinkannya sehingga melebihi keyakinan tenggelamnya matahari di sebelah Barat. Tetapi, ada juga yang begitu lemah sehingga tidak dapat dirasakan oleh yang menerimanya, atau bahkan tidak diakui kehadirannya.
Kita memang harus memadukan akal yang berkualitas dengan hati yang terawat. Sehingga dengan demikian zikir dan pikir dapat berjalan menghasilkan sesuatu yang paling tinggi nilainya yaitu hikmah. Akal diasah dengan mengaktifkan otak untuk mempelajari ilmu pengetahuan; sedangkan hati dibuat mengkilap melalui amal perbuatan yang Islami. Rasulullah saw. bersabda, "Setiap dosa yang dilakukan, akan menimbulkan satu bintik hitam di hati." Dengan demikian, pilihan kembali ada di tangan kita. *
يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (Al-Baqarah (2):269)