Sejak zaman dulu nenek moyang kita mengenal buah Maja, yaitu buah yang mengilhami Raden Wijaya mrnamakan kerajaannya dengan nama Majapahit. Buah maja bentuknya sangat menarik, hampir-hampir menyerupai buah semangka. Bagi orang yang sedang dahaga, buah maja ini terlihat sangat menantang. Tetapi ketika orang mencoba memakannya, maka ia akan kecewa, karena buah maja ini ternyata rasanya pahit bukan kepalang!.
Di zaman modern seperti sekarang ini, buah Maja sudah berubah bentuk walaupun tetap menantang; yaitu kemewahan. Para ahli hikmah yang mampu melihat jauh ke dalam, sepakat menyimpulkan bahwa kemewahan menggiring manusia ke dalam kepahitan, yaitu terpuruk dalam jurang kehancuran. Fakta pun menunjukkan, gaya hidup yang penuh kemewahan membuat orang menjadi lalai akan tujuan kehadirannya di dunia; berpikiran pendek, tidak mempunyai idealisme yang luhur, serta jauh dari cita-cita yang mulia.
Ibnu Khaldun pernah mengatakan bahwa kehidupan mewah akan merusak manusia. Ia menanamkan pada diri manusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan perilaku hidup buruk lainnya. Nilai-nilai agung akan hilang dari dirinya, dan berganti dengan nilai-nilai bejat yang merupakan sinyal kehancuran menuju kepunahan. (Lihat dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun, halaman 187).
Banyak orang demi mengejar kemewahan hidup, cenderung mengambil jalan pintas; mengabaikan nilai-nilai akhlak atau rambu-rambu moral. Bukankah adanya penipuan, perampokan, pencurian, penodongan, dan penyalahgunaan kekuasaan (korupsi) bermuara dari keinginan untuk hidup mewah?
Para bijak mengatakan, kemudahan rezeki yang diperoleh hendaknya tidak membuat kita lupa diri terperosok dalam gaya hidup bermewah-mewahan yang jauh dari kesederhanaan. Dunia memang indah, namun harus disadari akhirat jauh lebih manis dan kekal abadi. Rasulullah saw mengingatkan bahayanya hidup berkemewahan dengan sabdanya yang terkenal ;
"Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini padamu." (HR Bukhari & Muslim)
Orang yang berperilaku hidup mewah, sudah terbukti akan cenderung membangkang pada perintah-perintah Tuhan. Kecenderungan ini boleh jadi sudah merupakan sunatullah, sebagaimana yang disyaratkan Allah dalam firman-Nya berikut ini:
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri Itu... Al-Israa' (17):16
"Merasa puas terhadap apa yang diperoleh, membuat fakir seolah kaya raya, sedangkan Serakah dapat membuat orang kaya seolah olah faqir!" sederhananya Wong iku kapan iso ngeroso cukup iso di arani sugih, lah wong kok rakus (selalu kurang) senajan wong kui ketok sugih iso di arani wong mlarat.